Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts

Kumpulan Cerpen (Karya Anak Bangsa)


Cerpen Romantis:
  1. Senyumannya Lembayung Senja
  2. I Like You Like I Like A Lake
  3. Love, Come And Gone
  4. Bukan Dia Tapi Kamu Vin
  5. Senyuman Terakhir Untuknya
  6. Remember
  7. My Last Love
  8. Cintaku Padamu Irene
  9. Tunggu aku Sampai Tiba Waktunya
  10. Komunitas Penulis Cerpen
  11. Silly Feeling
  12. Ada Cerita
  13. Disaat Senja Mulai Jatuh
  14. Aku Dan Dirinya
  15. Cappucinno Girl
  16. Pelangi
  17. Aku, Kamu Dan Kenangan
  18. Bersamanya Sedikit Lebih Lama
  19. Kertas Kosong
  20. Masa-Masa Indah Di Kampus
Cerpen Cinta:
  1. Bertepuk Sebelah Tangan
  2. Pangeranku Tanpa Sayap
  3. Sahabatku Mencintai Pacarku
  4. Bersama Hijab
  5. Hatimu Hatiku
  6. My Best Friend
  7. Pengorbanan Menjemput Adik
  8. IIs Safrianni
  9. Kesetiaan Separuh Jalan
  10. Rembulan Bukan Matahariku 
  11. Ketika Hujan Turun 
  12. Waiting For Time 
Cerpen Nasihat:
  1. Si Kakek Dan Aku
  2. Siapa Dia?
  3. Hening
  4. Meski Tanpa Ayah
  5. Ibuku Arti Sahabatku
  6. Move On
  7. Si Dogol

Si Dogol

Dogol adalah anak semata wayang dari pasangan ibu tuti yang hanya sebagai ibu rumah tangga dan bapak rahmat hanya seorang petani. sebenar nya dia adalah anak yang pandai hanya saja dia malas, pak rahmat berusaha bersusah payah untuk membiayakan anak nya agar dapat bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, namun si dogol hanya memilih untuk putus di jenjang SMK saja.
Si dogol selalu disuruh oleh ayah nya untuk bergegas mencari kerja karena hanya luntang lantung tidak jelas di rumah nya hanya hal itu yang ia lakukan di setiap hari nya, si ayah nya pun mulai bosan untuk menasehati dogol karena tak kunjung juga sadar untuk mencari kerja.
“dogol coba dong kamu cari kerja nak untuk mebantu ayah agar tidak terlalu berat untuk membeli biaya makan setiap hari nya apalagi ayah kan udah tua nak” suruh sang ayah, “ah males lah pak mending dogol tidur dogol capek pak kalo dogol harus kerja, sekolah aja capek pak apalagi kerja” jawab dogol dengan nada tinggi, dogol pun bergegas untuk menuju kasur tercinta nya dan kembali lah dia tidur tanpa menghiraukan apa yang di katakan ayah nya tadi, sedangkan sang ayah kembali menggelengkan kepala nya untuk kesekian kali nya seolah tidak percaya kalau si anak tunggal nya itu tidak pernah mendengar kan nasehat orang tua nya sekali pun, dan menuju lah pak rahmat ke tempat biasa ia mencari nafkah.
Suatu ketika pada saat pak rahmat menuju ke sawah untuk seperti biasa, di perjalanan menyebrang jalan raya untuk ke sawah ada sebuah mobil melaju sangat kencang dan pak rahmat pun tidak menyadari nya dan akhir nya terserempet lah pak rahmat hingga terjungkal ke pinggiran jalan raya pengemudi mobil sedikit membanting stir nya karena mungkin kaget melihat pak rahmat yang datang tiba tiba itu, pengemudi pun langsung melarikan diri untuk menghindar dari amukan warga setempat, beberapa orang warga yang melihat kejadian tersebut sempat meneriakkan mobil tersebut bermaksud agar bertanggung jawab atas perbuatan nya, namun apalah daya mobil pun semakin jauh tidak terkejar. dan akhir nya pak rahmat pun di antar warga untuk pulang ke rumah nya dengan cara di gendong karena kaki nya yang patah karena terkilir tadi, dan sesampi nya di rumah pak rahmat beliau langsung di rebah kan di bale dalam rumah nya, dan salah seorang warga menuju rumah nya pak H.gopli, dia adalah tabib spesialis patah tulang di kampung itu, pada saat si dogol terbangun dari tidur nya dia terkejut melihat beberapa tetangga yang berada di depan bale dalam rumah nya, ketika si dogol mengetahui nya bahwa kaki sang ayah nya patah dan di bilang pak tabib tadi bahwa sang ayah nya sudah tidak bisa berjalan lagi, si dogol pun kaget dan menangis di depan ayah nya.
Setelah kejadian tersebut dogol pun selalu termenung di depan rumah nya, suatu ketika dia termenung dan ibu nya dogol pun menghampiri dia, seraya ia berkata untuk memberikan nasehat kepada dogol, “sudah jangan pernah kamu sesali yang sudah terjadi nak, sebanyak apapun air mata yang kamu keluarkan untuk menyesali hal yang telah terjadi gak akan pernah berarti, karena waktu gak akan pernah berputar kebelakan nak, nah mulai sekarang kamu harus mencari kerja untuk meringan kan beban ibu” kata sang ibu, “ia bu dogol menyesal gak pernah denger nasehat ayah jadi nya gini deh keluarga kita semakin terpuruk” jawab dogol.
Dan akhir nya setelah kejadian tersebut dogol pun mulai berusaha mencari kerja kesana kemari namun tak kunjung dapat, beberapa kali dogol di panggil oleh pihak pekerjaan nya untuk menjalani tes lulus kerja namun tak juga lulus. dan akhir nya dogol pun mulai frustasi menjalani hidup nya.
Suatu ketika dia menuju ke sungai untuk merenungkan hidup nya dan duduk di pinggir air terjun yang tidak terlalu tinggi itu, di sana lah tempat masa kecil ia merenung pada saat dia bosan dengan nasehat orang tua nya. pada saat dia duduk di batu kolar yang begitu besar dan keras itu ia merasakan ada hal yang berbeda pada waktu dulu, dan ternyata hal yang berbeda adalah dimana pada saat dulu dia kecil batu kolar tersebut adalah persis berbentuk bulat seperti bola, dan pada saat ini batu kolar tersebut berubah bentuk menjadi ada lubang, berbentuk seperti mangkuk di atas lubang tersebut berada persis di percikan air terjun.
Si dogol pun berfikir kenapa kok batu yang begitu keras nya bisa berubah bentuk seperti itu, setelah ia berfikir panjang dan akhir nya entah dapat hidayah dari mana dia mendapat kan jawaban nya, “batu yang begitu besar dan keras bisa kalah sama percikan air bila dilakukan secara rutin dan terus menerus hingga berubah bentuk”. dan si dogol pun berusaha mengambil hikmah nya dari kejadian tersebut bahwa jika dia ingin menghasil kan sesuatu maka harus dilakukan dengan kerja keras dan terus mencoba tanpa harus menyerah.
Dan setelah dogol mencoba nya dan dia pun berhasil setelah berbulan bulan dia gagal, dan sekarang si dogol pun menjadi seorang pengusaha kaya yang berada di ibu kota, orang tua nya pun ikut di ajak merantau ke jakarta dan mereka pun senang dengan kerja keras anak nya hingga sukses seperti ini.
Cerpen Karangan: Muhamad Rafael
Facebook: paketuw[-at-]yahoo.com
muhamad yunus

Move On

Kau acuhkan ku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku, lumpuhkan lah ingatanku hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentangnya, hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia, ku ingin ku lupakannya
Terdengar suara dari dalam kamar seorang gadis, gadis itu menyetel salah satu lagu dari band geisha sambil duduk di tepi jendela di kamarnya gadis itu menangis mengenang masa lalunya. Pikirannya menerawang kebeberapa minggu yang lalu saat orang yang dia sayang menyakitinya.
Alex: “maaf aku sudah punya pacar lagi, aku sayang sama dia” .
Lisa: (seerr darah lisa seketika sudah berada di otak dan hatinya sesak menahan tangis) “jadi?”
Alex: “aku lebih memilih dia ketimbang kamu, perasaan aku sama kamu seperti sama teman-teman ku yang lain, hanya sekedar itu”.
Lisa: (dengan tenang dan menahan tangis) “ya sudahlah, aku juga nggak bisa maksa kamu untuk bertahan disini sama aku, semoga kamu bahagia sama pilihan kamu”
“lisa” panggil seseorang membuyarkan lamunan gadis manis itu
“uci? Kok kamu disini?” Tanya lisa pada sahabatnya
“jadi aku nggak boleh main ke tempat sahabat aku nih?” ucapnya
“maaf” ucapku lemah
“kamu masih mikirin dia?” Tanya uci yang sudah sangat dalam mengenal tentang ku bahkan masalah-masalahku
“aku nggak bakalan pernah bisa lupain dia ci” kata ku sambil menatap keluar jendela dan seketika air mata mengalir di pipi ku
“dia udah ngehianati kamu, sadar nggak sih? Kamu mesti move on lis,” ucapnya lagi
“nggak segampang yang kamu bilang ci” kataku sambil bangkit menghampiri meja rias sambil menatap cermin di depanku
“aku kangen kamu yang ceria seperti dulu lis” kata uci menghampiriku
“aku nggak bisa seperti dulu ci, hatiku sudah sangat hancur”
“kamu masih punya aku, Bahkan teman-teman dan keluarga kamu”
“ya aku tau”
“terus kamu mau apa? tetap diam disini dan menikmati semuanya? kamu kira kamu bias begini terus lis?”
“nggak”
“ya kalau nggak kamu move on dong”
“aku coba”
uci tersenyum mendengar ucapanku
Keesokan paginya
Suara merdu putaran jam berdetik keras di kamarku. Lembaran-lembaran foto dan kertas berisikan nama nya itu pun masih berserak di tempat tidurku. Tanpa aku sadari hujan beberapa minggu yang lalu masih meninggalkan baunya disini. Air mata yang mengalir dan belum bisa berhenti. Aku yang masih bergelut dengan bantal dan guling tak mampu membangkitkan diri seolah-olah badanku telah remuk. Masih jelas teringat kata-kata itu “aku mengenalnya baru seminggu yang lalu” kata-kata yang selalu ada dalam benakku, bisa-bisanya alex meninggalkan ku demi cewek yang baru ia kenal satu minggu. Kalimat singkat tapi sangat menyakitkan yang mengantar ku dengan setia ke jurang kegalauaan.
“ah terlalu bodoh aku kalau meratapi hal seperti ini, tuhan itu baik banget, dia tidak ingin ak terusan tersiksa maka dari itu dia secepatnya memisahkan ku dengan pria berwajah malaikat berhati iblis itu” kataku pada diri sendiri. Saat ini aku bertekad untuk enam huruf yang pasti bisa aku lakukan “MOVE ON”, ya, aku harus move on.
Siang itu ku lirik jam yang jarumnya menunjukan pukul 02:15 siang, aku masih terpaku di layar monitor laptop ku menjelajahi facebookku. Tiba-tiba handphone ku berdering suara sms masuk.
Massege dari: 081365XXXXX
“kamu hebat lis, bisa tegar sementara alex sudah membuatmu sangat sakit, kalau saja aku jadi alex nggak kan pernah aku tinggalkan perempuan sebaik kamu lis”
Nggak tau harus jawab apa, ada rasa heran dan senang dalam hati karena masih ada yang berpikiran untuk tidak meninggalkan aku, tapi aku nggak tau siapa yang mengirim pesan singkat itu.
Singkat cerita ternyata dia dony cowok yang uci coba comblangin saka aku. Uci sudah cerita semua sama dony tentang apa yang aku alami. Berulang kali aku bilang nggak mau pacaran maka semakin kuat juga tekad uci buat aku bisa move on dari cerita menyakitkan oleh orang yang namanya nggak boleh disebut. Tapi semua semangat uci untuk membuatku bangkit membuatku mengambil keputusan untuk maju dan menghapus bersih semua ingatan tentang penghianatan itu.
Malam ini di sebuah cafe kecil langgananku aku duduk bersama dony, cowok yang dikenalkan oleh uci. Sejak ceramah panjang lebar dari uci aku akhirnya menerima masukannya untuk bertemu dony. Aku benar-benar nggak sampai hati menolakan tawaran sahabat ku satu itu, dia memang benar-benar serius mencarikan aku pacar baru supaya bisa segera move on dari si berengs*k itu. Tapi pada akhirnya sama dengan cowok-cowok sebelumnya yang uci kenalkan ke aku, semua hilang bak ditelan bumi dengan satu-satunya alasan “aku cuek”.
Sebenarnya tanpa cowok yang dikenalkannya pun aku bisa move on, ceramah sahabatku pada hari itu benar-benar membuat aku move on dengan cepatnya walaupun tanpa pengganti si cowok berengs*k itu.
Sepotong kalimat itu “mungkin saat ini kamu mengira hal yang paling menyedihkan dalam hidup kamu adalah perpisahan dikarnakan penghianatan dari orang yang kamu jaga selama ini? Ingat lis daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin, rencana tuhan jauh lebih indah untuk mu teman, come on kehidupan yang lebih baik menunggumu di depan sana”
Terima kasih sahabat terbaikku atas sepotong kalimat untuk membuatku move on
Cerpen Karangan: Siska Pratiwi
Facebook: Siskatiwi[-at-]facebook.com
terima kasih sudah baca cerpen ku :)
ak siska pratiwi biasa dipanggil Ika,
follow twitter aku @siskapratiwi93
pin bb aku 28A4BB73
Ini adalah cepen ketigaaku yang aku kirim ke cerpenmu,
baca juga cerpen ku yang lain ya.. makasih :)

Ibuku Arti Sahabatku

Waktu semakin cepat berlalu. Itulah rangkaian kata kata yang membebani pikiran Lisa saat ini. Lisa adalah siswa yang sedang duduk di kelas satu SMP. Kebetulan hari ini Lisa genap berumur 13 tahun. Ia hanya bisa berharap dengan bertambahnya usianya bertambah juga kebijakan dalam memilih apapun dan semoga bisa membahagiakan kedua orang tuanya.
Ia selalu berharap ingin melihat kebanggaan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah ayahnya. Meski ia tahu bahwa itu hanya mimpi. Ayah Lisa meninggal dunia setahun yang lalu karena penyakit stroke yang dideritanya. Tetapi keadaan ini tidak membuat Lisa dan ibunya terpuruk dan larut dengan kesedihan. Mereka justru berusaha tabah dan tawakal menerima suratan takdir dari Sang Ilahi Robbi. Lisa juga begitu bangga dengan ibunya. Karena ibunya dapat memerankan dua peran sekaligus, yaitu menjadi ayah dan ibu walaupun belum sempurna tetapi Lisa tetap bangga kepadanya.
Pagi yang cerah, matahari bersinar sangat bersahabat. Pagi ini sebelum Lisa berangkat sekolah ibunya tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
“selamat ulang tahun, Nak” kata ibu sambil memeluk Lisa.
“terima kasih, Bu. Ulang tahunku kali ini sangat berbeda. Tiada lagi senyuman manis dari Ayah” kata Lisa dengan wajah yang murung.
“ini..” sambil memberikan sebuah gelang.
“apa ini, Bu?” tanya Lisa.
“ini gelang untukmu. Sebelum ayahmu meninggal ia berpesan pada ibu untuk memberikan gelang ini padamu ketika kamu genap berusia 13 tahun. Ternyata jauh-jauh hari ayahmu telah mempersiapkan itu untukmu.”
“aku pasti akan menjaga gelang ini baik-baik”
“maafkan, Ibu. Ibu tidak bisa memberimu apa-apa”
“ibu tidak perlu meminta maaf padaku. Cukup sisipkan namaku dalam doa ibu”
“kamu memang anak yang baik Lisa”
“ibu kan pernah bilang, mensyukuri nikmat yang ada akan lebih membahagiakan dari pada sibuk dengan keinginan yang belum tentu bermanfaat untuk kita”
Setelah itu, Lisa pamit kepada ibunya untuk berangkat sekolah.
Kesabaran, kebijakan, dan pengorbanan ibunya dalam menghidupinya seorang diri menjadi inspirasi bagi Lisa untuk menghadapi masalah yang telah menantinya. Karena selama kita hidup selama itu pula kita menghadapi masalah. Jika ada orang yang tidak mau memiliki masalah sama saja ia ingin menutup matanya untuk selama-lamanya. Itu juga kata-kata yang sering terucap dari mulut ibunya.
Sembilan kilo meter harus ditempuh Lisa untuk sampai di sekolahnya. Cuaca cerah yang bersahabat membuat Lisa semakin kencang mengayuh sepedanya. Tetapi sepertinya ada yang mengganjal di hati Lisa. Akhir-akhir ini sifat teman-temannya banyak yang berubah. entah apa kesalahan ang telah Lisa perbuat. Padahal selama ini Lisa selalu berpkir sebelum bertindak. Tetapi ia menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna, semua manusia asti mempunyai keselahan termasuk Lisa. Ia hanya bisa berharap semoga teman-temannya bisa memaafkan keselahannya.
Sesampai di sekolah Lisa langsung memasuki kelas. Jantung Lisa serasa berhenti berdetak. Tiada seorang pun yang berada di kelas. Saat ini kelas bagaikan pemakaman yang gelap, sunyi dan sepi. Bulu kuduk Lisa mulai merinding. Ia pun mencoba berlari keluar dari kelas. Akan tetapi entah apa yang terjadi, kakinya terasa berat untuk diangkat sepertinya ada yang menahan kakinya. Tapi siapa? Bukankah di sini tidak ada orang selain Lisa. Ia sekarang tak punya nyali untuk melihat ke belakang dan melihat siapa sebenarnya yang menahan kakinya. Kini yang bisa ia lakukan hanya berteriak dan terus berteriak agar ada orang yang mendengarkan suaranya. Tanpa terasa perlahan air mata mula menetes dan mulai menggenangi pipinya yang chabi. Ia hanya memikirkan kejadian-kejadian buruk yang menimpanya jika ia tidak segera keluar dari sini.
Tiba-tiba lampu mulai menyala, dan terdengar suara serentak dengan ucapan “selamat ulang tahun, Lisa”. Ternyata suara itu adalah suara teman-teman Lisa yang telah merencanakan ini jauh-jauh hari. Sebagian besar teman-temannya memberikan kado padanya. Tanpa sengaja Ricky temannya, melihat gelang yang indah dan melingkar di tangan Lisa. Ricky adalah teman sekelas Lisa yang sangat jahil. Hampir semua temannya ia jahili tak ketinggalan Lisa. Dengan sengaja lucky menyenggol Lisa dan membuat Lisa terjatuh. saat ia jatuh, Ricky segera mengambil gelangnya dan ketika ia ingin mengambilnya Ricky justru melempar gelangnya ke arah Lucky. Itu pun berlangsung cukup lama. Ketika Lisa berhasil merebut gelangnya dari Lucky, Ricky justru berusaha mengambilnya kembali. Hingga gelang itu menjadi rebutan mereka berdua. Ricky tetap berusaha keras mempertahankan gelang itu pada genggamannya. Hingga tak disangka gelang itu putus. Lisa tak lagi bisa menahan amarahnya. Ia kecewa pada Ricky dan Lucky, karena mereka telah menghancurkan gelang pemberian ayahnya.
Tet… tet… tet… tet…
Bel berbunyi panjang tanda kegiatan di sekolah telah usai. semua anak-anak langsung berlari pulang. Tetapi tidak untuk Lisa. Melihat Liss kebingungan mencari salah satu manik-manik yang hilang, Ricky dan Lucky merasa iba. Ketika Ricky ingin menghampiri Lisa, ia merasa kakinya menginjak sesuatu. Ternyata benda yan diinjaknya adalah manik-manik yang sedang dicari Lisa. Ricky akhirnya memberikan manik-manik itu pada Lisa dan meminta maaf.
“maafin kami, ya” kata Ricky
“kami tidak bermasud membuatmu sedih” kata Lucky
“kalau hanya bicara itu memang mudah, tetapi coba kalan yang ada di posisiku” Jawab Lisa
“kami mengerti perasaanmu, mungkin jika kami yang berada di posisimu pasti kami akan melakukan hal yang sama” kata Ricky
“kalian tak kan pernah engerti perasaanku! Asal kalian tahu gelang ini pemberian dari Ayahku dan hanya ini yang aku punya” jawab Lisa dengan nada tinggi
“berapa sih harganya? Gelang murahan seperti itu saja diributkan. Masih mending aku mau minta maaf.” Kata Lucky dengan angkuh.
“memang ini gelang murahan bagi kalian tetapi ini sangat berharga bagiku!” Lisa pun segera meninggalkan tempat itu. Ricky sangat kecewa dengan perkataan Lucky pada Lisa mereka pu bertengkar hebat.
Ketika ibu sedang menyiapkan makan siang, tiba-tiba Lisa datang dengan air mata yang tak henti menetes. Lisa akhirnya menceritakan semuanya kepada ibunya.
“kamu tidak boleh seperti itu! Ibu yakin mereka tidak sengaja”
“kenapa ibu jadi membela mereka? Ibu tidak merasakan apa yang aku rasakan”
“kamu salah, ibu merasakan apa yang kamu rasakan. Kalau ibu di posisimu pasti ibu akan memaafkan mereka.”
“tapi kenapa, Bu?”
“karena mencari sahabat seperti mereka itu sangat sulit berbeda dengan mencari musuh”
“Yang harus kamu ingat sahabat itu takkan sirna oleh amarah dan sahabat itu sedetik di mata selamanya di jiwa”
“aku baru mengerti arti sahabat yang sesungguhnya. Seharusnya aku bisa menahan amarahku”
“air tak selau jernih begitu pula perbuatan mereka padamu”
“iya bu, aku berjanji akan meminta maaf pada mereka. Terima kasih, Bu telah Mengajarkanku arti persahabatan”
Ibu hanya bisa tersenyum dan memeluk Lisa.
Cerpen Karangan: Mutiara Devit Merlinda
Facebook: Mutiara Devit
nama: mutiara devit merlinda
sekolah: SMPN 1 NGADILUWIH, KEDIRI

Meski Tanpa Ayah

Pagi ini kusambut mentari pagi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah, meski tak ada lagi yang mengantarku. Tak seperti dulu saat ayah di sisi ku Ia akan menyambut pagi ini dengan bunyi klakson motornya yang berisik tanda ia terlalu lama menunggu. Bunda akan melihatku dan mengantarku hingga di depan pintu dengan senyuman hangatnya.
Yahh, tapi itu dulu, saat ayah ada di antara kami, kini tak ada lagi senyuman hangat dari bunda, yang ada hanyalah muka letih karena terlalu lelah bekerja, yang ada hanyalah kerut muka tanda bertambah usia.
Dulu aku berfikir betapa menyebalkan ayah dengan segala peraturan yang dibuatnya, tapi kini aku merindukan segala tutur katanya, betapa lembut belaian darinya, bahkan harum tubuhnya pun kini aku rindukan. Aku menyadari betapa pentingnya ia di hidupku, kini pelita itu telah hilang seolah pergi tanpa bayang. yang kucari tak lagi dapat kutemukan hanya angan yang tersisa.
Saat kepergian ayah, kurasakan kehilangan yang luar biasa, hatiku bergejolak, tapi kulihat Bunda ia seolah ingin melawan takdir, hatinya begitu tersayat, raungan kepedihan begitu mendalam di hatinya, berkali kali ia pingsan, menyebut nama ayah tanpa sadar.
Yah, lagi lagi itu dulu, kini aku bersama bunda memulai hidup baru, memulai menata hidup kami kembali, kini aku mulai menyongsong masa depan lagi lagi “Meski Tanpa Ayah” di sisi. Bunda mulai menerima kenyataan bahwa ayah telah tiada bersama kami. Bayang-bayang suara ayah akan keinginanya untuk agar aku menjadi dokter semakin membangkitkan emosi. Ayah, lihatlah aku, meski tanpamu kini aku bisa berdiri, dan meraih impian, tapi ini semua tak lepas dari keinginanmu. Love you ayah..
Cerpen Karangan: Kharisma Titah Utami
Facebook: Sii kharisma titahh utami

Hening


Mobil Avanza melaju menyerobot derasnya hujan bahkan aku hampir tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Irwan mencoba mengelapnya untuk mengurangi embun yang menempel di kaca depan. Lampu temaran mobil itu yang menembus hujan menambah suasana sore seperti kesunyian.
“biar aku bantu mengelap, kamu harus konsentrasi melihat jalan..” aku menawarkan diri, ku lihat wajahnya serius sekali mengelap kaca.
“sudahlah tidak apa-apa. Kau tenang saja aku bisa berkonsetrasi sambil mengelap kaca ini” Katanya. Dia belum menampakkan senyumnya.
Beberapa jam yang lalu, dia mengirim pesan kepadaku. Aku merasa senang karena aku kira dia ingin menghiburku, mengajakku jalan keluar menikmati sore berdua. Kerena kebetulan sekali otakku lelah dipenuih dengan rumus matematika yang harus kuhapal, belum lagi rumus fisika, dan kimia. Akhir-akhir ini aku mengikuti berbagai kursus untuk menghadapi ujian nasional yang tinggal menghitung hari. Pikirku otakku juga perlu istirahat dan pergi dengannya mungkin bisa menghibur sedikit rasa lelahku. Aku balas dengan excited bertanya ‘where we will go?’ dia hanya membalas ‘sudah nanti akan aku jemput kamu’. Namun sejak dia menjemputku aku lihat rona mukanya hanya keseriusan dan ketenangan yang nampak, tidak terucap satu kata pun saat aku memasuki mobil Avanza-nya. Apa yang sedang ia pikirkan?.
Aku memberanikan diri bertanya “kita akan pergi kemana?”
“ehm.. kita akan pergi ke Rose’s Caffe, kamu ingat?” tatapannya serius menatap jalan, duduknya berubah sedikit ke depan mendekati kaca agar jalan dapat lebih terlihat olehnya.
“oh, aku ingat, tempat itu kan tempat kamu nembak aku satu tahun yang lalu” Aku bersemangat.
Tanpa kusangka dia membalikkan kepalanya ke padaku dan memberikan senyum lebarnya, inilah irwan yang aku kenal.
Namun keheningan itu datang lagi saat mobil sampai di parkiran Rose’s Caffe. Aku seperti terbawa nostalgia satu tahun lalu, mobil Avanza ini masih sama, bahkan cincin yang pertama ia berikan padaku dari perak putih yang cantik masih setia aku kenakan.
Aku ragu untuk turun dari mobil, saat dia membukakan pintu aku sadar, aku memang harus turun. Ada apa dengan perasaanku? Begitu menyesakkan hati. Aku takut karena begitu banyak pertanyaan di kepalaku. Mengapa Irwan mengajakku kemari? padahal semenjak kita berpacaran kecuali pertama dia mengatakan cintanya kami tidak pernah lagi datang kemari, mengapa dia tidak banyak bicara padaku sejak tadi? Apa aku membuat suatu kesalahan?, apa ini atau itu… begitu banyak pikiran mendera otakku sekarang.
Irwan berjalan satu langkah lebih maju dari langkahku, dia bahkan tidak memegang tanganku atau bertanya padaku ‘apa kau senang datang kemari?’. Dia tidak berusaha melakukan apapun yang bisa membuat aku yakin hubungan ini baik-baik saja. Harum mawar segar menerpa penciummanku, Rose’s Caffe memang selalu dipenuhi bunga mawar segar di setiap sudut tempat mungkin begitulah ciri khas Caffe ini. Embun seperti kristal menempel pada kelopaknya, seakan mengibaratkan kesedihan dibalik semua harapanku, jujur aku tidak suka suasana hening walau mendamaikan, ia selalu meninggalkan banyak pertanyaan.
Aku hanya memesan secangkir cokelat panas, Irwan menambahkan bahwa aku harus makan sesuatu, namun perasaanku sedang tidak mood sekarang. Ia akhirnya memesan spaggeti untukku. Saat kami mulai bertatap muka dan dia mulai menebarkan senyum yang terlihat menutupi sesuatu, aku tahu pasti ada masalah dalam hubungan ini. Haruskah aku yang bertanya mengapa? Mengapa dia begitu berbeda?.
“hmmn..” dia seperti sudah siap mengucapkan kata-kata.
“ada yang ingin aku bicarain sama kamu..” dia tidak ingin menatap mataku, seakan tahu bahwa mataku akan menanyakan banyak pertanyaan dibandingkan dengan bibirku yang sudah mulai kaku dirudung kecemasan.
Seorang pelayan yang mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dariku, mengantarkan pesanan kami. Dia mungkin tahu gerak-gerik hubungan sedang mengalami masalah, tidak seperti pasangan lain yang sering berkunjung kemari. Caffe terlihat sepi, sehabis hujan lebat mengguyur mungkin banyak orang berpikir untuk berdiam di rumah. Dari pada bergelut dengan dinginnya malam atau dengan rintik hujan kecil yang masih terasa. Musik yang biasanya aku dengar ber-alunan romantis pun hilang seakan mengetahui keadaan hubungan kami.
“Ok.. bicaralah..” aku manatap matanya lebih tajam agar bisa kuperhatikan gaya bicaranya mungkin aku bisa menerka isi hatinya.
Di mulai berani menatapku “dengar..” dia menggenggam tanganku, aku merasa ada hawa dingin di tangannya. Entahlah itu, aku akan pasrah apapun yang terjadi dengan hubungan kita. Tapi aku harus tahu kenapa.
“kita harus berakhir sekarang?” akhirnya kata yang ia sembunyikan keluar dari mulutnya.
“kenapa? Aku berhak tau apa sebabnya” mataku mulai berkaca-kaca dan mengalihkan pandangan.
“Lihat aku, mungkin kita sudah tidak cocok lagi Lis, mungkin ini jalan yang terbaik” dia memandangku lekat. Hatiku terasa pecah menjadi serpihan yang berusaha aku pungut dengan tabah.
“aku tahu pasti bukan itu alasannya, apa aku berbuat salah?” aku berkata dengan air mata hampir meluap membasahi pipi.
Aku ingat pertama dia memandangku di perpustakaan sekolah, walau dia satu tahun lebih tua dariku dia tidak gengsi berkenalan denganku. Satu-satunya yang aku sukai dari perpustakaan sekolah ada banyak buku tentang psikologi disana. Dan bertambahlah alasanku karena aku merindukan wajah seriusnya mengerjakan soal matematika di meja dekat jendela perpustakaan. Ternyata dia juga kagum padaku katanya ‘aku selalu rindu pada seorang gadis bertubuh mungil duduk di lantai tanpa peduli orang sekitar sedang membaca buku psikologi padahal ada banyak bangku dan meja disana’. Tidak pernah aku sangka dia juga memperhatikan aku.
Sampai suatu hari ia datang ke rumah, saat keadaanku sedang kacau aku baru bangun dari tidurku, rambutku tak beraturan bahkan aku memakai celana pendek lusuh kesayanganku. Dia bilang ‘aku sengaja datang kemari, ini hari spesialmu’. ternyata dia ingat hari ulang tahunku, bahkan aku juga lupa karena banyak kegiatan paduan suara saat itu. Dia membelikan aku sebuah buku psikologi yang aku mau sebagai hadiah, dia juga lansung mengajakku ke Caffe ini, tentu saja saat aku sudah yakin aku bisa diajak kesana. Aku berdandan secantik yang aku bisa. Dia sangat tampan memakai setelan cassual-nya kaos dan jeans sedangkan, aku memilih dress-pink bermotif bunga. Baru aku sadari saat itu dia berperawakan tinggi, bahkan dapat melindungiku dari silau matahari aku selalu ingin melihatnya begitu karena, saat itu ia tampak seperti bayangan ‘pria cool’.
Di Caffe dia mengungkapkan perasaannya, aku tersipu dan menjawab ‘aku mau’ apakah aku terlalu naif mengatakannya? Itu memang perasaanku terhadapnya. Dia juga terlihat agak tegang dibalik sikap coolnya itu, apa lagi aku yang selalu salah tingkah di hadapannya. Dia juga memberiku cicin perak sebagai tanda hubungan kita, aku suka modelnya yang begitu klasik dengan mata berlian putih di tengahnya. Dan saat itu juga dia pertama mencium keningku.
Saat beberapa bulan hubungan kita, aku baru tahu kalau dia berbeda agama denganku, ia penganut Kristen yang taat. Aku pernah merasakan keheningan yang aku rasakan malam ini. Dia membawaku ke sebuah taman, tapi dia tidak terlihat serius ketika itu. Walau perbedaan keyakinan mengukung hubungan kami. Keheningan saat itu bisa teratasi dengan saling janji dan komitmen ‘kita akan selalu menghargai perbedaan antara kita dan kita bisa mengatasi tembok yang menjulang tinggi di antara kita’. Kami menjalani hubungan dengan baik, walau dia sibuk menghadapi ujian dan akhirnya masuk keperguruan tinggi yang ia idamkan. Ia masih menunjukkan rasa cintanya padaku.
Namun aku rasa keheningan saat ini tidak bisa teratasi, aku marah, aku merasa bersalah semua pikiran itu menggangguku saat ini. Air mataku tak terbendung mengalir membasahi pipiku, air mata itu kini meluap mewakili hatiku. Irwan coba menenangkanku, ia mengusap air mataku dengan tangannya yang kini mulai terasa bertambah dingin.
“tidak lis, kamu tidak melakukan kesalahan. Aku yang salah. Aku minta maaf”
“Katakan saja alasannya Ir, aku bisa terima apapun itu sehingga kita putuspun beralasan.. aku mohon” aku menatap matanya, air mata semakin deras mengalir.
Dia melepas genggamannya, dan hanya terdiam.
“aku ingin pulang sekarang,!” aku berdiri dari kursi.
“lis, cobalah mengerti” hatiku mulai merasa ingin berontak, ia bahkan tidak ingin menjelaskannya. Mengapa? bahkan dia tidak mengerti keadaan menghadapi ujian nasional yang harus aku persiapkan. Aku ingin mendapat dukungannya.
Aku berjalan menuju mobil Avanza miliknya, aku berpikir mungkin dengan pulang aku bisa menenangkan diriku, mencoba menerima semuanya. Irwan terlihat mengejarku dan memanggil namaku. Aku terus berjalan menuju mobil dengan air mata yang masih bercucuran. Aku melewati bunga mawar segar tadi, mereka seperti sudah memberi pertanda sebelumnya. Aku bahkan tidak mengira akan keluar dari Caffe yang menurutku bersejarah dalam cintaku dalam keadaan menangis, karenanya.
Aku masuk kedalamnya, aku mungkin bisa berlari atau naik kendaraan umum menuju rumah. Namun itu akan terlihat bodoh karena akan banyak orang yang melihat tangisku. Aku ingin ia mengungkapkan apa yang ia sembunyikan. Irwan memasuki mobil da duduk di hadapan stir sambil memandang ke arahku.
“Aku sadar aku terlalu tega lis, tapi…”
“Aku ingin pulang sekarang, aku lelah” aku menatap keluar jendela samping mobil, terlihat titik hujan masih menempel. Napasku membuat kaca mobil berembun.
“ini memang berat lis…”
“aku tau… pasti ada alasannya ir, kamu gak mau ngasih tau aku apa alasannya?” aku meninggikan nada bicaraku, merasa hatiku pun berhak untuk mengetahui apa yang disembunyikan.
“ok. Lis. Mamaku tidak setuju dengan hubungan kita..” ucapnya lirih, seakan berat mengatakannya.
“Apa karena perbedaan kita?” aku menoleh ingin melihat jawaban dari bibirnya.
“Iya…” suasana hening itu mengelimuti kami, aku mulai bisa merasa tegar.
Irwan adalah anak yang begitu patuh pada kedua orangtuanya, jika itu memang keputusan yang terbaik baginya aku akan terima. Jika memang ini alasannya aku bisa terima, aku mengerti sebagai anak dari kedua orangtua yang sudah membesarkanku, jika aku ada di posisinya mungkin aku akan lakukan hal yang sama. Tembok yang menjulang di antara kami adalah masalah keyakinan aku harus bisa menerimanya walau hatiku perih. Mungkin perbedaan yang begitu pekat tentang keyakinan, lebih mendominasi berakhirnya hubungan ini.
“Baiklah ir, aku mengerti sekarang, kita akhiri saja hubungan ini. Mungkin ini yang terbaik” aku berusaha menghapus air mataku dengan tanganku, lalu menarik napas dalam berusaha untuk tegar.
Suasana hening merundung kami, namun terdengar pikiran dalam hatiku terngiang-ngiang di kepala. Sepertinya Irwan juga merasakan hal yang sama, kami tenggelam dalam perasaan masing-masing yang mengalahkan suasana hening di antara kami.
“Ir, aku ingin pulang”
“baiklah…”
Dia memutar mobilnya, tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Mobil itu melaju, seakan tahu aku juga ingin lari dari kenyataan ini. Mataku mulai lelah dan sayu, seakan ingin lepas pergi ke dunia yang lebih baik dari kejadian ini.. aku tetidur dalam keheningan.
Seminggu kemudian, aku bangun lebih pagi karena hari ini adalah hari yang penting untuk menentukan masa depanku. Hari pertama aku menghadapi ujian nasional, mama bahkan membantuku membereskan alat-alat tulis mungkin saja ada yang tertinggal dan bisa fatal. Aku menghabiskan sarapan sambil dalam hatiku berdoa “mudahkan ya Allah.. mudahkanlah hamba”. Tiba-tiba bibi manghapiriku, dan memberikan surat untukku. Aku lihat siapa pengirimnya ternyata Irwan, isi suratnya:
For Lisa
‘Percayalah pada hatimu, kamu bisa lakukan apa yang kamu mau…’
Irwan your’s friend.
Cerpen Karangan: Cika J
Facebook: Kayacica85[-at-]gmail.com

Si Kakek dan Aku

Ku tatap matahari yang sudah meninggi, cuaca tidak terlalu terik siang ini. Aku melangkah menyusuri trotoar di depan toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan mahakam ini. Pesangon yang ku terima sebulan yang lewat, membuatku harus menyusuri jalan-jalan kota demi mendapatkan pekerjaan. Sebagai seorang pria rasanya ini adalah saat yang kelam. Tanpa pekerjaan dan sudah sebulan ini berkeliaran di jalan-jalan kota demi mencari pekerjaan. Bertemankan terik matahari, debu, keringat, hujan dan lumpur. Rasanya ingin berhenti menyudahi perjuangan mencari pekerjaan ini. Tapi… aku harus tetap berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup, yang membuatku sedikit tenang adalah aku belum memiliki tanggung jawab menafkahi anak istri. Seandainya aku sudah berkeluarga mungkin aku bisa stres tanpa pekerjaan seperti ini. Yah… meskipun sebenarnya sekarang ini juga sudah sedikit stres karena belum mendapatkan pekerjaan.
Dengan bermodalkan uang pesangon aku berkeliling kota mencari pekerjaan. Hari sudah siang saatnya aku mengisi perut, aku melangkah ke warung makan di pinggir jalan. Duduk di bangkunya yang sudah kusam dan meja yang berlapiskan karpet plastik. Seorang ibu menyambutku dan menanyakan mau makan apa, setelah aku mengatakan pilihan menu makan siangku si ibu langsung mempersiapkannya. Aku mendesah pelan rasanya lelah, lelah fisik dan pikiran karena sampai saat ini aku belum mendapatkan pekerjaan.
Sambil menunggu makan siangku datang aku melihat sekelilingku, warung ini cukup ramai. Warung ini cukup nyaman meski telah usang tapi keramahan pemiliknya membuat orang tertarik untuk mampir ke warung ini. Seorang pria tua lewat di depan warung dengan gerobak dorongnya yang berisi barang-barang bekas. Lalu dia berhenti tak jauh dari warung tempatku duduk. Dia berteduh di bawah pohon di sisi warung tempatku duduk sambil mengipas wajahnya dengan topinya, terlihat lelah sekali. Sudah setua itu, kakek ini masih bekerja keras. Ku lihat si kakek mengambil sesuatu dari dalam gerobaknya. Sekantong plastik, sepertinya minuman dan sebungkus makanan. Ku perhatikan kakek itu, dia membuka bungkusan daun itu. Terlihat nasi putih di dalam daun itu tapi kelihatannya hanya nasi putih tanpa lauk?
“Ni makanannya dek..” si ibu pemilik warung mengagetkanku. Si ibu meletakkan sepiring nasi dan segelas air minum di depanku.
“Eh iya bu.” jawabku sambil melihat ke ibu itu lalu kemudian kembali melihat ke arah kakek itu. Si kakek makan hanya dengan nasi putih tanpa lauk? Pikirku heran.
“Kenapa dek, kok lihatin kakek itu terus?” tanya si ibu yang ternyata masih ada di dekatku.
“Eh.. iya bu, tu kakek makan hanya dengan nasi putih.” Ucapku heran lalu melihat si ibu.
“Iya, sudah biasa. Kalau lagi ngak ada barang yang dia dapat biasanya besoknya dia hanya makan nasi putih saja sebagai makan siangnya. Terkadang malah cuma singkok.” ucap si ibu yang terlihat prihatin. Aku menatap si kakek iba, teringat selama ini aku selalu makan dengan enak.
“Tapi kakek ngak mau di kasihani, pernah tuh ibu mau kasi lauk untuknya eh.. malah si kakek tersinggung. Kakek itu orangnya penuh semangat, selalu berusaha setiap hari mencari barang-barang bekas untuk dijual supaya ada biaya untuk hidup. Yah.. dari pada seperti mereka-mereka itu.” ucap si ibu. Sambil melihat ke arah beberapa pengemis di pinggir jalan, yang terlihat sehat dan masih muda.
“Kok si kakek ngak mau di kasi bantuan ya bu?” ucapku, yang kembali bicara tentang si kakek dan tidak terlalu memperhatikan para pengemis itu.
“Dia bilang ngak mau membuat orang lain rugi atau membebani orang lain. Dan lagi dia bilang nanti jadi kebiasaan, kebiasaan menerima dari orang lain membuat dia tidak lagi bekerja keras untuk diri sendiri dan keluarganya” ucap si ibu, sungguh pria tua yang penuh semangat dan perjuangan.
“Kakek itu punya keluarga?” tanyaku lagi.
“Dia punya istri tapi tidak punya anak, ibu dengar dulu dia punya anak tapi meninggal karena sakit sebab tidak punya uang untuk berobat.” ucap si ibu hatiku miris mendengarnya.
“Sudah dek, makanannya di makan.” ucap si ibu lalu kembali ke kerjaannya.
Aku masih menatap si kakek. Lalu melihat ke piringku, selera makanku hilang. Tapi karena sudah ku pesan aku harus memakannya dan harus habis tak tersisa karena banyak orang yang sulit untuk makan. Aku teringat selama ini begitu tidak peduli jika makanan bersisa atau mengeluh kalau makanannya tidak sesuai dengan seleraku. Sesekali aku melirik si kakek yang makan dengan lahap dan akhirnya menyelesaikan makan siangnya.
Selesai makan siang aku masih duduk di warung itu, si kakek sudah pergi dengan gerobaknya. Mungkin bukan hanya si kakek yang seperti ini masih banyak orang lain yang mengalami hal seperti ini. Kesulitan mencari biaya hidup membuat mereka harus bisa makan supaya kenyang saja tanpa berpikir akan gizi makanannya. Bahkan tak mampu berobat jika sakit, si kakek kehilangan anaknya karena tidak mampu membawa anaknya berobat. Aku menatap sekelilingku lalu menatap langit. Kata orang negaraku begitu kaya, kaya akan sumber daya alamnya tapi kenapa rakyatnya untuk makan pun sulit? Pertanyaan yang sulit untuk ku jawab meski pun akan banyak alasan dan jawaban untuk pertanyaan itu.
Di usianya yang lanjut si kakek ngak berputus harap untuk mencari nafkah dan meski lelah tadi aku engak melihat dia lesu. Dia tetap semangat mendorong gerobaknya. Yah… ini pun pelajaran bagiku untuk tetap semangat dalam mencari pekerjaan. Bukankah aku masih muda sudah seharusnya aku lebih semangat dari kakek tadi meski sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Ini adalah sebuah perjuangan dalam hidupku… Dan sudah seharusnya aku bersyukur karena sampai hari ini aku masih bisa hidup dengan berkecukupan dan harus menghargai apa yang ada padaku.
Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Potret Jalanan

Setelah aku menyelesaikan Sekolah Menengah Atas atau yang lebih sering disebut SMA di kampungku, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar pulau. Namun karena keadaan ekonomi keluargaku yang berada pada rating menengah kebawah mengharuskanku untuk mengubur harapan itu. Kecewa memang, tapi apalah daya ketika kenyataan tidak sejalan dengan harapan. Aku juga sempat berkeinginan untuk tidak melanjutkan pendidikan daripada harus menetap disini. Setiap hari aku selalu mengurung diri di kamarku yang dipenuhi dengan poster Iwan Fals. Aku kecewa, aku merenung, lalu aku menangis sampai akhirnya aku terbangun dari semua keterpurukan yang melanda diriku. “kamu kuliah disana atau disini nggak ada bedanya, semuanya akan sangat tergantung pada bagaimana kamu menjalani proses perkuliahan itu dan kesadaran dirimu untuk mau memanfaatkan semua yang ada”. Kata ayah itulah yang membuatku sadar dan membuang keinginanku untuk tidak melanjutkan pendidikan. Kusiapkan semua persyaratan untuk kuliah, kuatur jadwal pendaftaran, kucari kawan yang sejalan denganku untuk sama-sama berangkat meninggalkan kampung halaman menuju kota orang.
Setelah kawan aku temukan, doa dari ayah dan ibu melepasku pergi berjuang melawan kerasnya persaingan. Saat itu satu-satunya yang aku punya hanyalah harapan, harapan itu pula yang kujadikan perisai atas hatiku yang ragu. Malam itu, dua puluh empat jam menjelang tes sebagai syarat utama memasuki universitas X, aku yang sementara tinggal di rumah kawanku sama sekali tidak merasakan apa-apa disaat kebanyakan kawan-kawanku sibuk bertanya “siapkah aku menghadapi hari esok?”. Pagi pun datang, matahari datang, dan kicauan burung-burung menjadi musik alam yang terdengar dari balik dinding kamar mandi. Kicauan burung-burung masih terdengar, aku dan kawanku pamit berjuang. Lokasi tes yang berbeda mengaharuskanku dan kawanku berpisah untuk menempuh satu tujuan. Aku nggak tau bagaimana dengan mereka, yang jelas buatku tes hari pertama berjalan biasa saja, begitu pula hari kedua dan hari ketiga yang merupakan hari terakhir. Hasil untuk tes akan diumumkan satu bulan kemudian terhitung mulai hari itu dan hingga hari pengumuman tiba perasaanku tetap sama. Lalu aku pergi menuju sebuah toko untuk membeli koran harian. Sejujurnya aku adalah remaja yang kurang menggemari membaca, tujuan utamaku membeli koran tidak lain untuk memastikan hasil atas perjuanganku satu bulan lalu. Dan ya, syukurku kepada Allah SWT karena “LULUS” berarti menang. Aku kini berhak untuk mendapatkan hadiah atas perjuanganku berupa satu kursi di Fakultas Ekonomi di sebuah Universitas X tadi. Begitupun kawanku, Alhamdulillah…
Di kota sana, aku lebih memilih ngekost daripada harus menetap di rumah kawanku sebab aku hanya akan seperti benalu meskipun ia tidak bicara begitu. Beruntung kakak perempuanku lebih dulu merantau ke kota, jadi orangtuaku meminta ia menghubungi teman-temannya yang tinggal disana untuk mencarikan kost untukku. Tak lama kemudian ada kabar tentang kamar kost yang kosong di sekitaran kampusku. Keesokan harinya saat minggu masih pagi, aku dan keluargaku berangkat kesana untuk memastikan apakah aku mau atau tidak menempatinya. Tempatnya sederhana dengan ukuran kamar 3×4 meter dan kamar mandi diluar tak membuatku tersiksa karena memang kehidupanku juga serba sederhana, terima saja. Setelah barang-barang keperluanku diturunkan dari mobil sewaan, airmataku melepas kepulangan keluargaku. Hari ini adalah hari pertamaku disini, hari ini pula hari pertama aku jauh dari keluarga.
Hari-hari yang kujalani terasa sepi, malam yang aku lewati lama berganti. Hatiku selalu sedih dan ingin segera kembali ke kampung halamanku. Nggak jarang aku menghubungi keluargaku untuk menyampaikan semua yang kurasakan tanpa mereka. Tapi mereka tetap menguatkan aku, walaupun saat itu sama sekali tidak berpengaruh bagiku. Di rumah, ketika suasana hatiku tak tenang, aku selalu keluar mencari kedai kopi meskipun larut malam sekalipun. Dan disini, di kota ini aku pun menjalankan kebiasaan itu dengan keluar mencari kedai kopi. Pemandangan tengah malam disini sangatlah berbeda dengan di kampung halamanku. Di kampung, menjelang tengah malam seperti ini tidak begitu ramai, tidak ada gadis remaja yang masih lalu lalang di jalan, apalagi nongkrong di pinggir jalan sama sekali nggak ada, semoga nggak pernah ada. Selagi bingung dengan perbedaan yang terlihat jelas, sampailah aku di sebuah kedai kopi terdekat dari langkahku. Aku pesan segelas kopi dan sebungkus rok*k lalu duduk bersila beralaskan tikar yang memang sudah tergelar di atas trotoar jalan. Kopi yang kupesan datang, rok*k pun siap dibakar. Namun hatiku belum bisa tenang, justru semakin nggak bisa tenang ketika aku menyaksikan satu lagi perbedaan yang ada. “Ini nggak seharusnya terjadi padamu saudaraku!”, ucapku berbisik dalam hati yang kini semakin dipenuhi dengan tanda tanya.
Mataku yang semula menyaksikan para muda mudi yang asyik bercanda gurau, ada juga yang bermain gitar dan bernyanyi. Kenapa harus kualihkan pandangan ke arah seberang jalan, aku nggak tau. Kini kopi tak lagi hangat kurasakan, rok*k tak lagi nikmat kuhisap. Bagaimana tidak, di seberang sana aku melihat anak kecil yang tidur di tengah teman sebayanya yang terlihat asyik bermain koin. Yang sangat menyesakkan hatiku adalah ketika aku perhatikan seragam merah putih yang masih ia kenakan, lengkap dengan dasi yang kurasa bertuliskan “TUT WURI HANDAYANI”. Kuperkirakan umurnya sekitar 9–10 tahun, mungkin kelas 2 atau kelas 3 sekolah dasar. Pemandangan ini tambah mengacaukan fikiranku yang memang lagi berantakan. Aku ingat adikku!! Aku bayangkan adikku!! dan Aku semakin rindu kampung halamanku!! sebab disana tak kutemui pemandangan seperti ini…
Aku berdiri dari duduk bersilaku, lalu kubayar kopi dan rok*k yang telah kupesan tadi. Namun aku tidak langsung beranjak pulang ke kostku, aku dengan pelan menyeberangi jalan. Untuk mengamati lebih dekat pemandangan yang aku lihat, juga untuk mengetahui lebih jauh siapa anak itu. Kupesan lagi segelas kopi di kedai yang letaknya tepat di samping kumpulan bocah yang bermain koin dan tertidur. Pesananku datang, resah hatiku belum menghilang. Kutarik nafas panjang dari hidung, kuhembuskan kembali lewat mulut, lalu entah apa yang membuatku berani mengucapkan kata tanya kepada ibu pemilik kedai. “Bu, siapa anak itu?” tanyaku dengan nada sedikit kaku. “Anak-anak inikah maksudmu nak?”, si ibu balik bertanya mencoba meyakinkan diri. “Benar Bu, anak-anak ini”, jawabku. Lalu si ibu berkata “Mereka adalah anak-anak sekampung dengan ibu, rata-rata mereka hidup tanpa orangtua!!”. “Maaf bu, maksud ibu orangtua mereka telah meninggal dunia?”, tanyaku ingin lebih tau. “Tidak nak, orangtua mereka belum meninggal. Orangtua mereka merantau ke Malaysia dan ibu mereka menikah lagi”, jawab si ibu.
Namun tanyaku nggak berhenti sampai disini, masih merasa ingin tau mengundang banyak tanya dalam kepalaku. “Hmmm, begitu yaa bu… dan yang tidur ituu…?”, “kalau yang itu anak ibu!!”, jawabnya menyambut tanya yang belum selesai kuucapkan. Mendengar jawaban dari si ibu, aku terdiam sejenak. Kuminum kopi yang telah kupesan tadi dan bakar rok*kku. Sejujurnya masih banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada si ibu, tetapi karena aku melihat mata si ibu berkaca-kaca sesaat setelah ia menjawab pertanyaan terakhir dariku waktu itu, kuputuskan untuk memendamnya dengan harapan bisa menanyakannya dilain kesempatan. Bersama hati yang belum tenang, fikiran yang berantakan, dan tanya yang terpendam, aku bayar kopi kepada si ibu dan melangkahkan kaki pulang.
Beberapa menit kemudian ketika aku sampai di kostku, gerbangnya telah tertutup rapat, tanpa fikir panjang aku putuskan untuk masuk lompati tembok pagar yang kebetulan tidak terlalu tinggi. Kubaringkan tubuhku pada kasur tanpa ranjang, aku merenung kembali. “ ekejam inikah yang namanya kota?, seburuk inikah dampak dari kenyataan yang ada?, dan lihatkah mereka dari istana sana?, lalu samakah masa depan para bocah dengan bukti atas janji yang disampaikan oleh mereka para petinggi negeri? ya, SAMA-SAMA NGGAK ADA!!”. Kata_kata itulah yang sempat aku ucapkan sebelum aku benar-benar terlelap tanpa mimpi…
Sabar yaa kawan…
Lakukan apa saja selagi itu benar agar esok engkau tetap dapat makan!!
Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals ( Untukmu Negeri )
Hey… seperti biasa sebelum aku membagi kisah yang kusampaikan melalui tulisan sederhana, aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Bagi kawan-kawan yang sudah mengenalku supaya lebih hafal namaku, dan untuk kawan-kawan yang belum tau siapa aku, maka perkenalan ini akan membuat kawan-kawan mengetahui siapa aku. Namaku NICKI RIZQINTA ALPANCHORI, kawan-kawanku biasa memanggilku V_ngass/Nicky Fals karena gigiku yang ompong juga menyukai sekali musisi legendaris yang terkenal dengan nama Iwan Fals. Umurku 22 tahun, aku saat ini sedang menjalani tahap akhir perkuliahan disebuah kampus yang bisa dikatakan favorit dikotaku. Baik, kurasa cuma itu perkenalan singkatku kepada kawan-kawan sekalian dan aku akan memulai kisah nyata yang pernah aku saksikan sendiri dengan mata kepalaku.