Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts

Kumpulan Cerpen (Karya Anak Bangsa)


Cerpen Romantis:
  1. Senyumannya Lembayung Senja
  2. I Like You Like I Like A Lake
  3. Love, Come And Gone
  4. Bukan Dia Tapi Kamu Vin
  5. Senyuman Terakhir Untuknya
  6. Remember
  7. My Last Love
  8. Cintaku Padamu Irene
  9. Tunggu aku Sampai Tiba Waktunya
  10. Komunitas Penulis Cerpen
  11. Silly Feeling
  12. Ada Cerita
  13. Disaat Senja Mulai Jatuh
  14. Aku Dan Dirinya
  15. Cappucinno Girl
  16. Pelangi
  17. Aku, Kamu Dan Kenangan
  18. Bersamanya Sedikit Lebih Lama
  19. Kertas Kosong
  20. Masa-Masa Indah Di Kampus
Cerpen Cinta:
  1. Bertepuk Sebelah Tangan
  2. Pangeranku Tanpa Sayap
  3. Sahabatku Mencintai Pacarku
  4. Bersama Hijab
  5. Hatimu Hatiku
  6. My Best Friend
  7. Pengorbanan Menjemput Adik
  8. IIs Safrianni
  9. Kesetiaan Separuh Jalan
  10. Rembulan Bukan Matahariku 
  11. Ketika Hujan Turun 
  12. Waiting For Time 
Cerpen Nasihat:
  1. Si Kakek Dan Aku
  2. Siapa Dia?
  3. Hening
  4. Meski Tanpa Ayah
  5. Ibuku Arti Sahabatku
  6. Move On
  7. Si Dogol

Waiting For The Time

Waktu berjalan begitu cepat. Dahulu Anggun begitu memuja-muja Reva meskipun mereka belum saling mengenal. Sejak pertama kali bertemu, Anggun sudah merasakan sesuatu yang beda. Akan tetapi Anggun selalu bersabar menunggu saat dimana mereka akan saling mengenal. Momen itu terasa begitu lama datangnya. Hingga suatu saat seorang sahabat Anggun saling memperkenalkan mereka.
Namun kisah cinta ini belum berakhir sampai disitu. Sejak mereka saling mengenal, mereka harus melakukan suatu tahapan menuju jenjang cinta, yaitu ‘PDKT’ alias pendekatan. Tahap ini berjalan begitu sangat lama pula, berlangsung hingga 3 Tahun. Anggun pun merasakan Reva yang sepertinya mustahil untuk jatuh hati padanya. Akhirnya Anggun memutuskan untuk menyerah menunggu Reva, dan memutuskan untuk fokus ke UN SMK yang sudah di depan mata. Walaupun begitu Anggun dan Reva masih tetap saling berkomunikasi jarak jauh seperti biasa.
Finally hari kelulusanpun tiba, seluruh siswa berkerumunan saling berdesakan di papan pengumuman, untuk melihat hasil UN. Fortunately! Enggak ada yang terlihat menangis stelah melihat papan pengumuman. Itu berarti enggak ada yang enggak lulus. Saat itu kami semua sangat bahagia, namun juga sangat bersedih karena kita akan meninggalkan masa putih abu-abu. Kita akan mencari jenjang yang lebih tinggi bisa kerja maupun kuliah.
Saat hari kelulusan itu hampir seluruh siswa terutama laki-laki yang mencoret-coret baju mereka, dengan berbagai tanda tangan dan sepidol yang berwarna-warni pula. Sekarang tak ada lagi yang namanya saling mencontek, saling lempar tipeks, saling nongkrong depan kelas, jailin guru, dihukum guru di depan kelas dll. Begitu cepat waktu berlalu.
Suatu malam, terlihat Anggun yang sedang berada di jendela dan sedang memandangi langit malam. Malam itu Anggun sedang membayangkan Reva. Walaupun hari ini dia bahagia karena telah lulus, namun terasa ada yang kurang, hingga membuatnya gundah gulana sperti itu. Kemudian terdengar alunan lagu pilihan hati dari Geisha yang membuyarkan lamunannya. Anggun tahu bahwa yang mengeluarkan suara itu adalah poselnya. Lalu dia merogoh ponsel yang berada di atas kasurnya. Sembari menatap layar ponselnya, dia melongo, ternyata yang memanggilnya adalah cowo yang dipujanya sedari kelas 1 SMK. Dengan jantung yang tiba-tiba begetar Segera ia menekan tombol hijau. Tiiit…
“hallooo… malem putri mammoth” terdengar suara Reva di seberang sana yang biasa memanggil Anggun dengan sebutan Putri Mammoth, entah apa yang ada dipikiran Reva saat menciptakan nama hewan purba itu.
“ya haloo kak Reva, tumben nelpon, kenapa kak?”
“kamu udah lulus ya? Congratulation for your success darling!!!” ucap Reva yang memberikan selamat pada Anggun.
“thanks kak, kakak nelpon aku Cuma mau ngomong gitu aja?”
“hmmm… ya enggaklah sayang, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apaan kak?”
“hmmm, sebenernya… aku suka sama kamu dari dulu, tapi karena nungguin kamu lulus dulu aku baru mau nembak kamu” tuturnya dengan nada yang berkesan.
Mendengar ucapan itu jantung Anggun udah seperti mau loncat-loncat keluar. Anggun seakan terbius, dan tak bisa ngomong apa-apa. Ternyata bener yang dibilang temen-temennya. Reva pasti Cuma mau nungguin dia lulus dulu, karena Reva sudah kerja. Reva pasti memikirkan keadaan juga saat Anggun masih sekolah, dia tidak mau mengganggunya.
“kenapa diem? Apa kamu udah punya pacar saat ini?”
Anggun segera sadar “ahh… be.. belum kak” kata-kata Anggun terpatah-patah.
“lalu kamu apa nggak terima cinta aku Nggun?”
Tanpa pikir panjang dan bagaikan terhipnotis Anggun bilang “ya tentu kak.”
“aku.. aku juga suka kakak dari pertama aku lihat kakak” tutur Anggun.
Kini kebahagiaan Anggun telah bertambah dengan adanya Reva sebagai pacarnya.
Mereka sudah menjalin hubungan sudah hampir setahun. Dan selama itu mereka memutuskan bekerja di tempat yang berbeda, agar tidak ada personal problem di tempat kerja. Meskipun mereka harus jarang bertemu, karena keduanya memiliki kesibukan tersendiri. Tapi mereka tetap saling menghubungi dan mempercayai satu sama lain.
Beberapa bulan hubungan masih berjalan baik-baik saja. Namun suatu hal yang manis tidak akan selamanya bertahan, kata pepatah tak ada yang abadi. Begitu juga dengan suatu hubungan pasti ada pahit manisnya karena live is never flat. Entah apa telah yang terjadi, suatu saat tiba-tiba Reva mengajak Anggun ke Taman Kota.
“Anggun kamu tahu enggak kenapa aku ngajak kamu ke tempat ini tiba-tiba?” tanya Reva mengawali percakapan.
“enggak, ada apa kak? Kakak mau ngomong sesuatu?”
Reva terdiam namun Anggun menyadari raut wajah kekasihnya itu memancarkan kesedihan, dia terlihat berkaca-kaca namun Anggun yakin dia pasti sedang menahan air mata itu menyentuh pipinya.
“kak, ada sesuatu yang kakak sembunyiin? Kenapa wajah kakak tampak sedih dan pucat, tak seperti biasa, kakak sakit?” tanya Anggun yang heran melihat pacarnya, kemudian menjulurkan tangannya dan menyentuh kening Reva untuk merasakan suhu tubuh Reva.
“enggak sayang, aku enggak sakit, aku baik-baik aja, Anggun…” Reva menggantung kalimatnya. Anggun hanya sedikit memiringkan kepalanya heran.
“kamu masih sayang sama aku?” sambung Reva.
“tentu saja kak, kenapa kakak nanya kaya gitu, kakak udah enggak sayang sama aku lagi?” Anggun merasakan feel yang aneh saat mendengar pertanyaan kekasihnya.
“Anggun gimana misalnya kalau suatu saat nanti kita berpisah karena sesuatu?” Reva tak menjawab pertanyaan Anggun, malah melontarkan pertanyaan yang aneh lagi.
“kenapa nanya gitu lagi? Apa kakak mau putusin aku? Kenapa? Ada masalah apa? apa kakak udah punya cewe lain?”
“bukan gitu Anggun, aku masih sayang banget sama kamu,dan enggak ada sedikit pikiran terlintas untuk mencari cewe lain, bahkan aku sempat berfikir untuk menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku” tutur Reva yang terlihat sangat serius dan penuh makna.
“tapi Nggun, ada masalah besar antara kita”
“masalah besar apa?” tanya Anggun spontan. Lalu Reva menarik nafas panjang sebelum menjawab, seakan dia menghadapi sesuatu yang menegangkan.
“orang tuaku… enggak menyetujui hubungan kita”
“apa?” Anggun sangat shock mendengar pegakuan itu.
“tapi kenapa, bukannya ibumu udah tau aku? Kita kan satu Desa, apa yang membuat ibu seperti itu?” sambung Anggun.
“bukannya dia enggak setuju Nggun, tapi dia trauma akan kejadian yang dulu menimpa ayahku, dia takut itu akan terjadi”
“kamu pernah denger kan keyakinan orang-orang desa, bahwa pria dari desaku enggak boleh menikah dengan gadis dari desamu” Reva menjelaskan cerita takahayul di Desak mereka, yang katanya bila gadis dan lelaki antara desa mereka menikah maka yang wanita akan menjadi janda secepatnya, seperti halnya yang telah terjadi pada ibu Reva. Tapi Anggun selalu berfikir itu hanyalah mitos belaka.
Garis hidup seseorang hanya diatur oleh Tuhan, bukan manusia yang percaya begitu saja dengan apa yang mereka dengarkan. Seseorang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, jika tidak sekarang mungkin besok atau suatu saat nanti, tapi kita tidak tahu.
“lalu, apa kita mesti percaya mitos seperti itu?” Anggun yang sepenuhnya sangat tidak menyetujui keputusan itu.
“aku memang enggak percaya, tapi ibuku sangat mempercayainya karena dia yang mengalaminya, ibu ditinggal ayah saat ku masih dalam kandungan” tutur Reva menjelaskan, dia memang sangat menyayangi ibunya, hal itu salah satu yang membuat Anggun mengaguminya selain ketampanannya.
“tapi ku yakin itu hanyalah takdir Tuhan, dan semua orang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, aku enggak mau pisah dengan kakak aku sayang kakak.” Anggun mulai terlihat sangat ketakutan untuk berpisah dengan Reva.
“ya, aku pun sama sepertimu, tapi aku enggak berani menentang ibu, dia yang telah membesarkanku tanpa peran seorang suami”
“baiklah kak, aku mengerti, jangan pernah menentang ibumu kak” ucap Anggun dengan mata berkaca-kaca, namun ia langsung berlari agar tak dilihat Reva. Namun Reva mengejar dan menarik Anggun ke dalam pelukannya. Saat itu langit diselimuti awal tebal. Kemudian jatuhlah butir-butir air dari langit, yang membasahi mereka berdua di taman kota.
“Anggun maafkan aku, aku enggak bisa mempertahankan cinta kita, aku memang pengecut, aku enggak bisa berbuat apa-apa” aku Reva
Anggun hanya terdiam dalam pelukan Reva, dia tetap menangis.
“Aku enggak bakal nyari pengganti kakak” bisik Anggun dalam benaknya.
Kemudian Reva melepas pelukannya. “kamu jangan nangis lagi ya, kamu pasti dapat yang lebih baik dari aku” kata Reva sambil mengusap air mata yang di wajah Anggun yang sudah berbaur dengan air hujan. Kemudian mencium kening, mata dan bibir Anggun. Anggun membiarkannya, dia hanya terdiam.
Semenjak kejadian malam itu, hidup Anggun mulai berubah. Anggun yang biasa terkenal jail dan ceria, kini berubah menjadi Anggun yang pemurung, pendiam, dan tak pernah tertawa, meski itu hanya untuk tersenyum sedikit. Semakin hari wajahnya semakin pucat lesu. Hingga akhirnya kondisinya semakin memburuk, jatuh sakit dan harus di opname.
Seminggu ini Anggun koma di rumah sakit, dan seperti biasa ibunya selalu berada di sisi anaknya. Ibu Anggun sangat terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba mengigau “Kak Reva… kak reva… kak Reva!!!”. Lalu Ibunya segera memanggil dokter.
Setelah diperiksa, Dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Anggun sangat tinggi, detak jantungnya juga tidak teratur, lalu dokter menyuruh Ibu memanggil Reva. Sebenarnya, Anggun memang mempunyai penyakit jantung, namun sudah lama tak pernah kambuh, sampai sekarang ini.
Keesokan harinya Anggun sadar dari komanya. Dia membuka matanya secara perlahan, dan melihat sekeliling.
“Ibu!!!” anggun melihat ibunya tertidur di sampingnya. Air matanya mulai mengalir, dari ujung mata membasahi pipinya.
“kamu udah sadar sayang” ibu Anggun terbangun, Anggun segera mengusap air matanya yang membalut wajahnya. “ibu, udah makan, pasti belum, ibu pulang aja ya, aku nggak apa kok sendiri”
“Tapi nak…” perkakataan ibu diputus” uda nggak apa kok bu…”
“ya sudah, ibu pulang ya, ayahmu pasti juga udah mau pulang sekarang” sebelum pulang ibu mencium kening Anggun.
Beberapa hari di Rumah sakit, sosok yang diharapkannya datang tak kunjung datang menghampirinya. Semakin hari harapannya semakin pupus bersamaan dengan kondisinya yang semakin melemah.
Di suatu malam Anggun tersadar, dia memandang sekelilingnya, tak ada siapa. Saat itu semua keluarga tidur di luar ruangan Anggun.
“Tuhan, inikah akhir hidupku?” Anggun tak dapat membendung air matanya, mengalir begitu saja menyiram wajahnya yang pucat pasi.
“apa arti kesetiaan saya selama ini? Apa salah saya? Mana keadilanmu? Sedari kecil saya selalu menderita, dan kini saya harus terluka lagi, entahlah, apa gunanya saya di dunia ini?” sedu Anggun dalam hati.
Keesokan harinya, kondisi Anggun sangat memprihatinkan, seakan tak ada harapan hidup lagi. Detak jantungnya semakin meningkat, sang ibu sangat gelisah, ketika menyaksikan sang anak yang sedang ditangani Dokter.
Saat dokter sedang memeriksa Anggun, Reva tiba-tiba datang. Seiring keluarnya dokter, Reva pun sampai di antara keluarga Anggun.
“Bu, gimana keadaan Anggun?” tanya Reva pada Ibu Anggun.
“begitulah Va, kondisi Anggun sangat buruk sekali” ucap Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ibu, kita harus terus berdoa dan berdoa, jangan menyerah, masih ada harapan” kemudian dokter selesai menangani Anggun. Saat dokter keluar dari ruangan Anggun, Ibu dan Reva menghampirinya.
“gimana dok, Anggun nggak apa-apa kan?” tanya ibu.
Dokter hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“dok anak saya baik-baik saja kan dok?” tegas ibu sekali lagi,
“semua sudah kami lakukan semaksimal mungkin, namun…” Dokter menggelengkan kepalanya lagi.
“apa?” ibu langsung pingsan setelah mendengar semua itu, kemudian dokter membawanya ke ruang pengobatan. Sementara Reva masuk ke ruangan Anggun. Dia menuju sisi Anggun, kemudian menggenggam tangan Anggun.
“Anggun… bangun sayang, bangun!! Ini Reva, ayo bangun, kamu sayang aku kan?, please jangan tinggalin aku, Nggun!!!” teriak reva sambil mengguncang Anggun. Kini Reva benar-benar menangis, lalu ia memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sambil menangis.
Lalu…
“Kak Reva…” Reva mendengar suara itu, lalu ia membuka matanya, benar, ternyata Anggun yang memanggilnya.
“Anggun!! Kamu masih Hidup” Reva langsung terbangun dari duduknya, dan mengelus pipi Anggun.
“ya, hanya untuk bertemu kakak” jawab Anggun.
“aku panggil dokter dulu”
Baru akan berbalik badan…
“kak tunggu!!” sambil memegang tangan Reva.
Lalu Anggun meletakkn jari telunjuk kanannya di bibir.
“kak, aku hanya sebentar, hanya 15 menit, aku udah menunggu saat ini, aku nggak mau semua tahu” ucap Anggun
“kamu jangan ngomong gitu, kamu akan tetap bersama kakak” Anggun hanya tersenyum lalu berkata “aku mencintaimu, sangat mencintaimu, dimanapun aku berada akan selalu mencintaimu”
“aku juga mencintaimu” balas Reva
“kak, aku.. aku nggak mau kakak menentang Ibu kakak, demi aku, aku akan selalu melindungi dan menyayangi kakak” tutur Anggun
“nggak, kamu harus tetap hidup sama aku, kamu nggak boleh pergi!”
Tiba-tiba, nafas Anggun tersedat, detak jantungnya meningkat, namun masih bisa ngomong patah-patah.
Reva memeluknya dengan erat, seakan tak akan melepaskannya. Anggun juga membalasnya.
“Aku.. mencintaimu… kak”
“aku juga, sangat mencintaimu”
“semoga kau bahagia kak” kemudian Reva merasakan pelukan Anggun semakin merenggang, lalu perlahan tangan Anggun terlepas dari tubuhh Reva.
“Anggun… Anggunnn!!! bangunnnn!!! Kamu nggak boleh pergi!!!´teriak Reva sambil mengguncang tubuh Anggun. Namun Anggun tetap terdiam dengan mata tertutup, tapi seulas senyum tersungging di bibirnya. Bagi Reva, itu adalah senyum termaniis yang pernah dilihatnya, dan tak ada yang memilikinya selain gadis yang saat ini berada di pelukannya.
THE END
Cerpen Karangan: Desak Putu Alit Santiani
Facebook: dewalovedesak[-at-]yahoo.co.id
Aku Desak, dari Bali, tepatnya Singaraja. aku sekoalah di SMKN 3 denpasar kelas XII jurusan Akomadasi Perhotelan.

Ketika Hujan Turun

Kenangan bersama orang yang pernah kita sayang tidak akan pernah terlupa begitu saja. Kadang kala kita mengingatnya di waktu-waktu tertentu. Namun, jangan terus terpaku pada kenangan itu karena semua itu masa lalu yang tak akan bisa terulang lagi.
Sore ini hujan cukup lebat mengguyur kota Surabaya. Terlihat seorang gadis termenung di balkon kamarnya sembari menatap hujan yang tak kunjung reda semenjak siang tadi. Pandangannya kosong ke arah depan. Sesekali air matanya jatuh, memorinya memutar kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampaunya.
“Dhea, aku serius kamu mau gak jadi pacar aku?” ucap Alex.
“tapi Lex, kita baru kenal bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan semua itu” ujar Dhea.
“aku juga tak tahu Dhea, yang jelas perasaan ini ada sejak pertama aku mengenalmu di toko buku waktu itu”
“tap, tapi aku gak yakin sama semua ini Alex. Aku butuh waktu”
“aku akan tunggu sampai kapan pun itu Dhe”
“bisa kamu tunggu aku hingga tiga hari kedepan?” tanya Dhea.
“apapun itu Dhe” jawab Alex.
Dhea tersenyum “aku ada kelas, bye Lex” ucapnya kemudian meninggalkan Alex di kantin dan berjalan menuju kelasnya.
—
“kamu kemarin kemana Ky?”
“kemarin aku di rumah aja kok Dhe, memang kenapa?”
“kamu gak bohong sama aku kan Ricky?” ujar Dhea tak yakin.
“ya enggak lah, kan kamu tahu sendiri kalau aku kemarin lagi gak enak badan. Emang kenapa sih Dhea?” tanya Ricky.
“kemarin ada temenku lihat kamu jalan sama mantan kamu, kamu ada hubungan sama mantan kamu lagi?” lirih Dhea.
“ya ampun Dhe, aku gak mungkin kayak gitu. Kemarin aku beneran gak kemana-mana. Lagian mantan yang mana sih?”
“udahlah Ky, kamu jujur aja. Kamu ada hubungan kan sama dia”
“Dhea dengerin aku. Aku gak ada hubungan apa-apa sama mantan aku, aku sayang sama kamu Dhe”
“kamu bohong Ky, aku tahu itu”
“kamu gak percaya sama aku Dhe”
“aku udah capek ngertiin kamu terus Ky, capek. Kamu udah sering boongin aku selama ini Ky. Aku mohon kali ini kamu jujur sama aku”
“Dhea, aku udah jujur sama kamu, aku beneran gak ada apa-apa sama mantan aku. Kalau kamu masih gak percaya sama aku mendingan kita putus aja”
“oke kalau itu mau kamu. Aku bener-bener kecewa sama kamu Ky” ucap Dhea kemudian beranjak dari bangku taman.
—
“kita udahan aja Vin”
“kenapa Dhea?” sahut Vino.
“aku gak sanggup lagi pertahanin hubungan ini Vino, kamu gak pernah peduli” jelas Dhea.
“oke kalau itu mau kamu Dhe, maaf bukannya aku tak peduli lagi, tapi aku menjaga perasaan sahabatku” ujar Vino.
“maksud kamu?”
“tentu kamu mengetahuinya Dhe, Leo menyukaimu”
“Leo?”
“iya Leo, dia juga pernah kan mengutarakan perasaannya ke kamu”
“iya, tapi aku menolaknya Vin, jadi apa hubungannya dengan dia?”
“aku mau menjaga perasaan Leo, Dhe”
“hmm oke. Itu mau kamu Vin, menjaga perasaan temanmu tapi tak bisa menjaga perasaanku. Ini yang dulu kamu sebut sayang Vin?”
“bukan itu maksud aku Dhea, lebih baik aku mengalah demi dia”
“oke Ham, thanks buat semuanya” ujar Dhea kemudian meninggalkan Vino di Cafe tempat favorit mereka.
—
“kenapa sih aku belum bisa lupain semua tentang kalian semua” gumam Dhea sangat pelan.
“kamu kenapa Dhea?” seseorang menepuk pundak Dhea. Dhea tersadar dari lamunannya, dan berbalik.
“eh kak Rendy ngagetin aja, gak apa-apa kok kak”
“yakin? Kakak perhatiin dari tadi kamu ngelamun terus loh ngeliatin hujan”
“huft” Dhea menghela nafas berat kemudian mengalihkan pandangannya keluar.
“kamu ada masalah? Cerita aja sama kakak” pinta Rendy.
“aku ingat sama mereka terus kak” Rendy mengernyit tak paham. Dhea yang melihat ekspresi kakakknya langsung melanjutkan kata-katanya.
“setiap hujan turun aku pasti ingat sama mereka kak”
“mereka siapa maksud kamu Dhe?” tanya Rendy.
“mantan-mantanku” jawab Dhea singkat.
“Alex, Ricky, dan Vino?” tebak Rendy. Dhea mengangguk pelan.
“lupakan mereka Dhe, hidup kamu harus terus berjalan meski tanpa mereka” ujar Rendy.
“aku tahu itu kak, tapi sulit. Hujan selalu mengingatkan aku tentang mereka”
“bisa kamu cerita kenapa kamu ingat mereka saat hujan?” pinta Rendy.
“Alex mengutarakan perasaannya saat hujan turun dan dia pergi begitu saja tanpa alasan, Ricky, orang yang paling aku sayang pergi saat hujan baru saja reda hanya karena keegoisanku, dan Vino, orang yang membuat aku bisa melupakan Ricky, dia pergi saat hujan turun kak. dari situlah aku gak bisa melupakan mereka apalagi setiap kali hujan turun”
“kakak mengerti perasaan kamu sayang, tapi apa kamu mau hidup dalam bayang-bayang mereka semua?” Dhea menggeleng.
“makanya kamu harus bisa lupain mereka, mereka juga belum tentu memikirkan kamu Dhea”
“huft, kakak benar. Sudah saatnya aku melupakan semua tentang mereka. Tapi apa aku bisa kak?”
“pasti bisa, kamu harus yakin kalau kamu bisa lupa semua tentang mereka”
“tapi hujan…”
“jangan pernah menatap hujan lagi biar kamu gak ingat sama mereka. Sibukin diri kamu terutama saat hujan turun” Rendy memotong ucapan Dhea
Dhea tersenyum “thanks kak” ucapnya kemudian memeluk kakak laki-lakinya itu.
“sama-sama Dhea” sahut Rendy membalas pelukan Dhea.
Cerpen Karangan: Aisyah
Facebook: aisyah ingind cendrija

Rembulan Bukan Matahariku

Desir angin tak membuatnya bergeming, sesekali ditatapnya rembulan yang redup berselimut mendung tak ada kerlip bintang disana, buram… sunyi malam itu, nyanyian jangkrik di pematang sawah seberang rumahnya menjadi teman kesendiriannya, serta telepon seluler yang selalu di perhatikannya, terkadang suara Bapak yang berdecak mengomentari berita di televisi terdengar. Di teras rumahnya Nisa duduk termangu, sesekali mengusap butir-butir bening yang mengalir dari sudut matanya.
“ya Rabb… kenapa dia masih selalu hadir dalam ingatan, dan pikiran ini?” gumamnya pelan, mengiba.
Rasa bersalah sekaligus sakit yang menggerogoti ulu hatinya sepertinya belum bisa sembuh. kejadian 4 bulan silam masih lekat di ingatan. “maafkan aku… aku tak sanggup mengatakannya padamu…”. sebuah pesan singkat namun tak sesingkat itu menghapusnya, tersimpan dalam memori otak. andai saja ada tombol delete otomatis di otak ini mungkin tak akan jadi masalah.
Setelah itu tak ada lagi pesan-pesan singkat. hanya bayang-bayang panjang yang menari-nari menggiring pada kondisi yang susah untuk dimengerti, semua dirasa suram, hitam…
“Aku ikhlas… akan terus berusaha untuk ikhlas”. terbayang sosok perempuan yang samar sama sekali tak dikenalnya. terasa perih untuk sekedar membayangkannya saja. Rasa bersalah menggelayuti pundaknya, seandainya ia tidak meninggalkan orang yang sangat ia kasihi itu, mungkin saat ini ia yang bersanding dengannya. ah, adakah yang salah dengan takdir? bisik batinnya meronta.
Sosok Rizal yang didamba kan menjadi imam untuk masa depannya kini hanya tinggal sesosok kenangan. setelah pesan singkat itu, dia benar-benar pergi dari kehidupan Nisa. Sakit itu karena betapa singkat semua terjadi betapa cepat terganti.
“maafkan aku kak, aku tak ingin berpisah darimu kak…” terisak Nisa saat terakhir ia bertemu dengan Rizal, kenyataan bahwa ia harus mengikuti keluarganya pindah ke luar kota membuat Nisa begitu terpukul.
“yang sabar ya dik… tenangkan hatimu.. aku kan berusaha ikhlas semua demi orangtuamu”. digenggamnya jemari Nisa seakan tak ingin angin pun memisahkan tangan mereka.
Derai air mata pun mengiringi kepergiannya, sungguh dalam munajatnya tak pernah terlewat harapan akan kebersamaan lagi.
Nisa menyeka genangan airmatanya, hawa dingin malam kian dirakan menusuk, ah, semua itu kini tinggal kenangan, bisiknya lirih. “Ambillah mataharimu, kau sekarang berhak atasnya…”
Betapapun besar perasaanya untuk Rizal, kini tak ada artinya lagi. Rizal lebih memilih bersanding dengan perempuan lain daripada harus menunggunya kembali. Sebuah kenyataan yang harus diterimanya dengan lapang dada, dan berbesar hati dengan semua itu.
Hatinya berdesir, mengisyaratkan untuk tetap tegar. Sang rembulan malam beringsut pelan ke arah Barat, ditatapnya dengan lekat, hal yang sangat disukainya berlama-lama menatap rembulan membuat hatinya lebih tenang. Ada gurat penyesalan pada raut mukanya, dalam hatinya bergumam “Mungkin Allah cemburu padaku, aku terlalu mencintai mahlukNya, hingga ibadahku, tindakanku dan semua yang kulakukan tidak semata-mata karenaNya, tapi karena agar Dia merestuiku dengannya. “Ya, aku sadar, aku memang salah. Ampuni aku ya Rabb… harusnya ku jaga perasaan ini dengan tidak menjalin hubungan dengannya. Ampuni saat ku bersamanya ya Rabb…” rintih Nisa dengan penuh harap.
“Nisa… ngapain kamu di luar? sudah malam nduk, cepat masuk! dingin-dingin begini kok di luar?” suara umi dari dalam rumah memecah lamunannya.
“iya mi… sebentar lagi…” sahut Nisa. sebelum beranjak ia kembali menatap sang rembulan, “kau tetep indah meski berselaput mendung”. bisiknya perlahan. dan selamanya kau tak kan pernah menjadi matahari.
5 bulan berlalu, hari-hari Nisa disibukkan dengan pekerjaan kantor, dan kegiatan di luar jam kantor yang digunakan untuk mengajar ngaji anak-anak. semua dilakukan agar ia bisa memperbaiki kehidupannya dan juga berusaha untuk mengubur kenangan bersama sosok Rizalnya itu. meskipun belum sepenuhnya hilang dari ingatan setidaknya konsentrasinya sudah kembali membaik.
Senja itu tampak merona, menghias cakrawala, burung-burung tampak terbang kebali ke sarangnya, mencari perlindungan dari gelap dan dinginnya hari yang kan berganti menjadi malam. Begitupun dengan Nisa, ia sudah berkemas, dan bangkit dari duduknya untuk segera pulang dari tempatnya mengajar ngaji. Tapi langkahnya kemudian tertahan.
“maaf bunda, kalau boleh tau bunda ini sudah ada yang mengkhitbah belum ya?” pertanyaan yang polos dari orangtua muridnya yang terbiasa memanggilnya bunda itu membuatnya sedikit salah tingkah.
“insyaallah belum bun, ada apa memangnya bun?” jawab Nisa dengan senyum simpul.
“alhamdulillah kalau belum bunda.. saya punya keponakan, namanya Ilyas insyaallah ia orang yang sholeh, saya melihat sepertinya cocok dengan bunda.” jawab ibu itu dengan ceria.
“ah… bunda bisa aja…” wajah Nisa tampak bersemu merah, ia pun menunduk tak memberikan jawaban dan berpamitan pulang.
Dalam perjalanan pikirannya coba menerka nerka, mungkinkah ini jawaban dari Allah atas munajat yang ia sampaikan tiap-tiap sujudnya di sepertiga malam? mungkinkah Matahari itu kan segera muncul esok? senyum tipis tersungging di bibirnya, “Wallahu a’lam” bisiknya dalam hati.
Cerpen Karangan: Lylik Choir
Blog: lilikchoir89.blogspot.com
Facebook: lylikchoir[-at-]yahoo.co.id

Siapa Dia?

Sesak nafasku sesaat melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat, berambut ikal panjang, tinggi semampai, cara berjalannya bagaikan macan lapar saja. Hanya berdua di taman dekat rumahku, tempatku dan dia biasa bertemu. Dan kali ini dia tak bersamaku, namun bersama seorang wanita yang tak aku kenal. Padahal hari ini ia ada janji untuk bertemu denganku disini. Taman yang biasanya terlihat indah dan sejuk, kini terasa kering kerontang dan panas karena pemandangan yang baru lima detik ku lihat dengan dua bola mataku ini.
Aku terduduk lemas di bangku ayunan yang biasa kugunakan untuk bercanda dengan wahyu. Di samping pohon cemara, yang tertutupi oleh pohon mangga. Sesaat fikiran negatifku menjulang tinggi ke atas ketika aku lihat hal ini, hatiku terasa seperti sedang diiris lalu dikucuri oleh jeruk nipis. Otakku penuh dengan darah panas yang mengalir sangat deras, di penuhi oleh fikiran negatif yang tak bisa di logika, jantung yang aku punyai sudah berdetak sangat kencang, yang kurasakan sekarang badanku mulai lemas dan tak kuat berdiri.
Siapa dia? Yang berjalan di samping Wahyu. Aku tak percaya dia tega melakukan hal ini padaku, sampai disinikah cintanya padaku? Yang setiap hari ia berkata sumpah bahwa ia mencintaiku dan tak akan pernah melepaskanku walaupun segalanya terjadi, ucapan-ucapan manis yang selalu dilontarkannya padaku. Janji setianya yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidupnya, bahwa hatinya telah buta kepada perempuan manapun selain aku. Sumpah Qur’an yang di lakukannya di depanku hingga berulang sampai lima kali terucap dari mulutnya. Apakah kupingku ini telah rusak karena salah mendengar bahwa ia sudah bersumpah semanis itu, sehingga aku sungguh terlalu mempercayainya hingga sekarang ini.
Setelah kemarin malam aku di antarkannya ke rumah sakit karena sakit lambung yang ku derita, yang masih tergambar jelas bayangan ia kemarin di waktu ia mengantarkan aku ke ruangan yang berwarna putih, yang ia selalu saja memaksakan dirinya untuk ikut mengantarkan aku masuk ke ruangan itu hanya karena ia ingin mengetahui makanan apa sajakah yang tak boleh ku makan di waktu aku lemah seperti itu, dan ia bertanya secara mendetail mengenai penyakitku, obat yang harus di tebus ke apotek di tanyai nya pada dokter secara menyeluruh, dan ia mencatatnya. Di apotek manakah ia harus membeli, di jam berapakah ia harus datang ke rumahku untuk memastikan apakah aku sudah meminum obat secara sempurna, ia tau semua hal yang harus dilakukannya, ia tau semuanya tentangku.
Sepulangnya aku di suapinya dengan semangkuk cemoe dan dua buah kue kimyen isi ayam kesukaanku dengan penuh perhatian. Di saat aku mulai mual dan makanan yang aku makan akan keluar dari perutku, ia selalu menegakkan leher dan badanku, kepalaku tak boleh di tundukkan, masih teringat dengan jelas saat itu tangan kirinya memegangi daguku agar aku tetap tegak dan aku tak menunduk, hal itu membuat aku tak jadi memuntahkan semua yang ku makan. Tangan kanannya memegang tanganku dengan halus, agar aku kuat menahan rasa mual ku ini. Dengan kata-kata lucunya, agar aku tertawa dan terhibur sehingga aku bisa melupakan rasa sakit yang ku derita ini. Beberapa menit setelah itu aku tak lagi merasakannya, mual yang tadi kurasakan hilang karena kata-kata lucunya yang setiap detik mengiringi aku bernafas dan membuatku seakan-akan aku sehat sekali. Setelah rasa itu hilang, ia kembali menyuapiku dengan kata-kata lucunya lagi seperti, “6513 disini pilot helikopter tanpa baling-baling, ngeeng… ngeeeng… helikopter ini kehabisan bahan bakar dan akan segera mendarat di goa terdekat, harap bersiap… ciaa..!!”. kalimat itulah yang di ucapkannya ketika ia menyuapkan satu sendok cemoe ke mulutku.
Sendok dan mangkok cemoe itulah yang menjadi saksi bisu perhatiannya terhadapku. Ia selalu melarangku pergi-pergi yang tidak begitu penting bagiku, ia selalu marah sekali jika aku melanggarnya, tapi ia selalu perhatian padaku jika terjadi sesuatu yang menimpaku seperti sekarang ini. Ia melarangku karena ia kuatir dengan kondisi yang sekarang ini ku derita. Jika ia melarang sesuatu kegiatanku, itu pasti ada alasan dan maksudnya agar tak terjadi apa-apa dengan keadaanku. Pernah sesekali aku melanggarnya, tapi sesuatu yang tak di inginkan benar terjadi padaku. Dan ia tau apa yang harus di lakukannya padaku jika terjadi hal ini.
Ia paham segala hal mengenaiku, mulai dari kebiasaanku, tabiatku, kepribadian yang kumiliki hingga semua mengenai hal-hal yang ku benci ataupun hal-hal yang ku sukai. Ini kan yang di maksud dengan perhatian dan kasih sayang? Ini kan yang disebut-sebut semua orang yang sedang jatuh cinta sebagai “pengertian”? Bukankah ia sangat menyayangiku dengan bukti yang sudah jelas tergambar seperti itu?. Pertanyaan semacam inilah yang sekarang ini melanda otak dan fikiranku, ada saja prasangka buruk dan pertanyaan aneh yang selalu saja bermunculan di otakku sekarang.
Benarkah dia menyayangiku? Bersungguh-sungguhkah sumpahnya itu di hadapanku? Atau hanya ucapan manisnya agar aku percaya dengannya? Agar ia dapat mengelabuhiku dengan mudah? Mungkinkah benar seperti itu? Tapi tentang pertanyaan mendetail tentang penyakitku? Tentang obatku? Dan usahanya memegangi daguku agar tetap tegak? Helikopter tanpa baling-baling yang kehabisan bahan bakar?.
Ah .. apa ini? Fikiran apa ini, apa maksud dari semua ini. Otak macam apa yang ku punyai ini? Aku sudah tak tahan dengan semua ini, lebih baik aku pulang saja daripada terus menangisi suatu fikiran yang sekarang sedang mengguncang otakku, dan aku sekarang harus kuat berdiri. Ya, berdiri dari ayunan ini. Aku sudah berdiri, dan selanjutnya aku akan membalikkan badan dan menganjakkan kaki meninggalkan semua kenanganku bersamanya.
Selamat tinggal sayang semoga kau bahagia bersamanya. Mungkin dia memang lebih baik dariku, dan satu yang perlu kau tau bahwa air mata ini adalah air cinta kasihku padamu yang takkan pernah kering selamanya walaupun aku tak memilikimu lagi. Aku sangat menyayangimu, selamat tinggal sayangku. Kau kan selalu ada di hatiku, dan cinta ini tak akan pernah pudar walaupun di telan waktu. Ingatlah sayang, di saat kau pergi dengan yang lain aku rela menjauh demi kebahagiaanmu. Namun jangan pernah berfikir, aku akan membencimu. Dan disaat kau merasa kesepian, datanglah padaku karena kebahagiaanku bukan di saat memilikimu, tetapi di saat melihat senyum dan tawamu.
Tolong bantu aku melupakan semua kenangan ini, aku tak sanggup berdiri dan meninggalkan tempat ini. Aku pasti bisa, aku harus berusaha menghapus air mata ini. Dan sekarang aku sudah membalikkan badan, hanya tinggal membuka mataku perlahan lalu menghapus air mata kepedihan ini. Berat sekali rasanya, ku tak sanggup membukanya. Hancur sudah perasaanku jika ku buka mata ini. Namun perlahan mulai terbuka, iya aku bisa, aku tak boleh menyerah begitu saja, ayolah mengeringlah air mataku. Dan sekarang ku sudah membuka mataku dan…
“happy birthday to you…”
“happy birthday to you…”
“happy birthday, happy birthday, happy birthday lovely…”
“selamat ulang tahun…”
“selamat ulang tahun…”
“selamat ulang tahun sayang.. selamat ulang tahun..”
“tiup lilinnya.. tiup lilinnya.. tiup lilinnya sekarang juga, sekaraaanng juuuga, sekaraaaang jugaa…”
“potong kuenya.. potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekaraaang juuuugaaa…”
Tepuk tangan dari semua teman-teman wahyudi bersama dengan wanita bertubuh tinggi semampai itu, dan semua pertanyaanklu terjawab sudah yang ternyata adalah ibu kandung wahyudi yang baru saja pulang dari Saudi Arabia, ikut mengiringi tetesan air mataku yang sudah tak sanggup lagi ku menahannya, terus mengalir. Namun saat ini bukan tetesan air mata kepedihan lagi, melainkan tetesan air mata kebahagiaan.
Cerpen Karangan: Dwi Damayanti
Facebook: Dwidamayanti11ips1[-at-]hotmail.com

Kesetiaan Separuh Jalan

Hari itu ketika ia dilahirkan dari rahim seorang wanita paruh baya, tangisan darinya mengundang haru kedua orang tuanya. Ketika itu juga disaat ia belum melihat dunia yang baru saja menyambutnya setelah perjanjian dengan Tuhan telah disanggupi. Suara adzan dari bibir ayah tercinta adalah hal pertama yang sengaja diperdengarkan tepat di depan kedua telinga. Lalu diciumnya kening sang istri sembari memeluk harapan yang baru saja dianugerahkan kepada mereka.
Rasa sakit yang teramat sangat, keringat yang bercucuran dengan derasnya, dan darah yang mengalir kini terbayar sudah dengan lahirnya si buah hati. Gelisah dalam penantian, resah yang mengganggu jiwa, dan khawatir yang menggerogoti hati kini telah diusir pergi oleh pelukan sang istri disertai kerasnya tangisan seorang bayi perempuan.
Larut dalam bahagia tak menyadarkan mereka bahwa malam telah datang menghapus terang dan mulai menampakkan kegelapan. Walau demikian, mereka sedikitpun tiada gentar menghadapi kenyataan karena keyakinan mereka bahwa dia adalah lentera yang dapat memancarkan sinar terang dalam kegelapan. Hari demi hari silih berganti, putaran waktu tak kan pernah berhenti hingga “Nina Anugerah Qita” adalah nama yang diberikan ayah kepadanya. Lengkap sudah kebahagiaan yang lama dinantikan, terpenuhi sudah balasan atas kesetiaan dalam suatu ikatan yang sah.
Umur Nina kian bertambah artinya sisa hari-harinya di dunia terus berkurang sampai “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” merupakan lagu lama yang baru pertama kali diperdengarkan dan mencoba terus untuk dinyanyikan. Airmata bunda tak tertahankan ketika Nina melantunkan lagu itu dengan senyuman tulus menyertai setiap syair lagu yang dinyanyikannya. Lalu rasa haru menyesakkan dada sang ayah tercinta disela kesibukannya mencari nafkah untuk hidup mereka. Airmata dan rasa haru tercampur menjadi satu membentuk harapan akan kebaktiaan seorang anak terhadap orang tua yang tak kan pernah pudar rasa kasih sayang serta cinta kepada anaknya.
Suatu malam, ketika Nina mulai beranjak remaja. Musibah datang menimpa keluarga bahagia. Tiadalah hati dapat menyangka bahwa apa yang dilakukan ayah menghadirkan musibah yang mengharuskan mereka terpisah. Airmata menetes lagi, rasa haru hadir kembali sebab ayah terpaksa pergi untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang dilakukan meski demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah kini telah pergi meninggalkan sang istri, ayah juga pergi meninggalkan Nina yang tidak lagi bayi. Hari-hari mulai berat dijalani, segala masalah yang datang terasa menyudutkan. Namun kesetiaan seorang istri dalam menanti, dan kebaktian seorang anak dalam berbuat adalah kekuatan untuk menjaga keutuhan hubungan dari ganasnya godaan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap bunda sendiri, airmatanya berlinang mengingat semua yang pernah dilakukan bersama suami tercinta sampai buah hati mereka sebesar ini. Ia mengingat ketika pertama menjalin cinta, ia tak lupa saat-saat tertawa bersama, ia mengingat ketika pertama mendengar tangisan dari Nina, ia takkan lupa pengorbanan yang dilakukan suami untuk dirinya sebelum dan setelah hadirnya Nina. Lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama pun tidak lepas dari ingatan bunda bahkan tak jarang ia menyanyikannya dalam duka dan kesendirian.
Nina yang kini remaja mulai mengenal yang disebut cinta. Nina juga sering bercerita kepada bunda tentang lelaki yang dapat membuatnya merasakan tenang dan damai dalam hatinya. Bunda hanya terdiam mendengarkan tanpa dapat memberi tanggapan dan ia hanya melanjutkan hidup yang terbuai harapan. Anton, adalah laki-laki yang dimaksudkan Nina. Anton adalah laki-laki yang berlatar belakang hampir sama dengan Nina. Selain itu Anton juga merupakan lelaki yang hidup dengan apa adanya dan ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keadaan keluarga yang diceritakan Nina kepadanya. Anton mencintai Nina dengan tulus, begitu pun Nina pada saat itu. Disela kesendirian bunda dalam menanti kedatangan suami tercinta, Anton dan Nina semakin menampakkan keutuhan hubungan mereka. Hubungan yang banyak menghadirkan rasa iri dari teman-teman yang mengenal mereka. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan mereka adalah jodoh karena memandang kemiripan yang ada pada wajah mereka berdua. Hal-hal seperti itulah yang semakin pula memperkuat hubungan yang mereka bina bersama.
Tiga tahun berlalu, disaat ibu masih setia menunggu kehadiran suami tercinta. Cinta Anton dan Nina belum tergoyahkan walau Nina tak jarang mempermainkan cinta dan sayangnya Anton. Namun karena cinta yang tulus dan sayang yang begitu besar dan mengingat setiap pengorbanan yang pernah dilakukan, sesering apapun Nina membagi hatinya kepada laki-laki lain, Anton selalu bisa memaafkan dan mempertahankan keutuhan hubungan mereka. Suatu hari, Anton merencanakan sebuah kejutan yang nantinya akan diberikan kepada Nina pada hari ulang tahunnya yang ke-21. Anton dengan cinta tulusnya mulai menyisihkan sedikit dari uang sakunya yang memang tak banyak untuk ditabung. Hari-hari Anton selalu dihiasi bayangan akan kebahagiaan yang dirasakan Nina ketika nanti ia menerima kejutan darinya. Anton bahkan sering membuat teman-temannya bingung akan kelakuannya belakangan ini. Ia lebih sering tersenyum sendiri dan kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah kata-kata yang tidak biasanya. Melihat tingkah Anton yang berbeda dari sebelumnya, Bimo yang merupakan teman baik Anton secara spontan bertanya kepadanya. “Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan kepada Nina disaat dia terus-terusan menyakitimu?” ucapnya dengan pandangan sedikit sinis. Anton yang mendengar pertanyaan itu pun dengan tenang menjawab, “Sesering apapun Nina menyakitiku, seperih apapun hatiku, dan sebesar apapun kecewa yang kurasakan. Rasa sayang dan cintaku kepada Nina jauh lebih besar kurasakan dan rasa itulah yang selama ini menguatkanku!”. Bimo tidak berhenti sampai disana, merasa belum puas ia kembali melontarkan kalimat tanya kepada Anton. “Oh yaa, jadi kamu mempertahankan Nina yang selama ini membagi hatinya untuk laki-laki lain hanya karena rasa sayang dan cintamu yang besar? Apa balasan atas besarnya sayang dan cintamu kepada Nina? Nggak ada Ton, nggak ada!” ucapnya kembali dan kali ini ia bertanya dengan raut muka yang kecewa. Seperti pertanyaan pertama, Anton menjawabnya dengan tenang bahkan lebih tenang, “Iya, aku akan terus mempertahankan Nina sampai nanti aku merasa tidak mampu lagi untuk mempertahankan dia di hatiku. Aku juga tidak pernah mengharapkan balasan apapun atas besarnya sayang dan cintaku kepada Nina. Bim, hatikulah yang memilih dia, bukan ragaku. Mungkin itu yang membuat aku melakukan semua ini!”. Lantas apa bedanya dengan kita Bim, kamu yang terus menerus menemaniku saat susah ataupun senang sampai kamu rela mengorbankan jiwa dan ragamu hanya untuk mempertahankanku didekatmu? Balasan apa yang pernah kamu dapatkan dariku atas semua pengorbanan itu Bim? nggak ada Bim, belum ada!!”, ucap Anton kepada Bimo. Bimo yang merasa ditampar oleh perkataan Anton hanya bisa terdiam merenungkan perkataan yang keluar dari bibir Anton. Ia sadar bahwa perkataan Anton terhadap dirinya memang ada benarnya, setiap apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya berharap ada balasan. Dan mulai saat itu Bimo tidak lagi berkata apa-apa tentang kelakuan Anton. Melihat Bimo terdiam, Anton tidak tinggal diam. Anton mengajak Bimo untuk pergi ke sebuah toko emas. Anton dan Bimo kemudian memesan sepasang cincin bertuliskan nama Anton dan Nina. Setelah ia selesai memesan, mereka kembali pulang dengan senyuman menghiasi wajah keduanya. Bimo yang tadinya mendesak Anton untuk meninggalkan Nina berubah mendukung dan Anton yang tadinya senang bertambah gembira.
Tiga hari berselang, tepat pada hari ulang tahunnya Nina yang ke-21. Anton pergi ke toko emas yang telah didatangi sebelumnya untuk menebus cincin yang dipesan tiga hari yang lalu. Ketika cincin sudah ditangan, Anton tidak langsung pulang. Ia bergegas memutar laju sepeda motor yang dipinjamnya dari Bimo dan mengarahkannya ke sebuah toko bunga yang jaraknya 20 menit dari toko emas tadi. Disana, ia membeli dua tangkai bunga mawar yang masih segar dan dimintanya si penjual untuk mengemas bunga mawar tersebut dengan rapi. Cincin dan bunga kini sudah ditangan, sekarang tinggal menunggu Nina datang padanya. Nina yang ditunggu akhirnya datang, dan apa yang diberikan Anton membuat Nina merasa sangat bahagia lalu memeluk Anton dengan eratnya. Anton pun merasa senang karena usaha yang dilakukan telah bisa membuat Nina bahagia menerima pemberiannya.
Anton yang bahagia tiba-tiba terkejut mendengar kabar Nina yang telah lima bulan menjalani hubungan secara diam-diam dengan seorang laki-laki yang jauh lebih bisa menjamin hidupnya kedepan dibandingkan Anton yang harus susah payah menabung guna membeli sesuatu untuk Nina. Anton mencari kebenaran akan kabar yang didengarnya, dan ternyata benar. Atas pengakuan Nina sendiri, Anton merasa sangat tersiksa. Siksaan yang dirasakan Anton kian bertambah ketika Nina berkata bahwa ia tidak lagi punya cinta ataupun sayang kepada Anton walau itu Cuma sedikit. Anton yang senyum kini menangis, Anton yang berusaha kini sia-sia, dan Anton yang bahagia kini berduka. Namun apalah daya, Anton dengan berat harus berusaha meninggalkan Nina yang dulu dipatok sebagai calon istri bahkan Nina dengan tenang menyarankan kepada Anton untuk melupakan dirinya sebab Nina telah menemukan Anton yang dahulu pada laki-laki yang bersamanya saat ini. Anton pun dengan terpaksa meninggalkan Nina, tapi tidak hatinya karena dalam hati Anton bahkan yang terdalam sekalipun masih ada Nina yang sulit tergantikan oleh wanita lain.
Seiring waktu terus berlalu, selagi bunda masih setia menunggu, dan selama Nina tenggelam dalam kebohongan yang entah kapan ia memulainya, nyatanya ia telah mahir. Anton sekarang menjalani sisa hidupnya dalam duka yang bercampur kecewa melihat dan mendengar kebahagiaan yang dijalani Nina dengan kekasih barunya. “Bunda, Anton mohon maaf atas semua kesalahan Anton selama bersama Nina dan Anton bangga telah sempat menjadi bagian dari keluarga bahagia ini”, ucap Anton kepada bunda Nina dalam satu pesan singkat bersama airmata yang membasahi pipinya. Bunda hanya terdiam saat mengetahui semuanya dan berdoa untuk kebaikan mereka berdua. Semoga doa bunda dapat dikabulkan oleh Tuhan, seru Anton dalam hati yang masih berharap sambil melangkahkan kaki lalu pergi.
Demikianlah kisah Anton dan Nina yang berhasil diabadikan dalam ingatan dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh sang penulis cerita dalam “Kesetiaan Separuh Jalan”. Semoga kisah ini dapat memberikan manfaat bagi setiap kita yang menyempatkan diri membacanya. Amin Yaa Rabbal Alamin…
Wabillahitaufik Wal Hidayah…
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals ( Untukmu Negeri )
Bismillahirrahmanirrahim….
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya untuk berpartisipasi dalam rangka mensyukuri segala nikmatNya yang ke_22 tahun terlewatkan, maka saya mencoba memaparkan sedikit kisah yang diharapkan mampu merubah akhlak serta tingkah laku kita dalam mengarungi sisa kehidupan di dunia yang sifatnya sementara ini. Suatu kisah yang diadopsi dari kisah nyata disebuah kampung kecil sebelah timur Pulau Lombok sepertinya menarik untuk sama-sama kita simak. Kisah ini menceritakan tentang kesetiaan seorang anak yang berujung perpisahan. Kisah ini sengaja ditulis sebagai bahan renungan untuk kita agar tidak melakukan hal yang sama. Nama, tempat, dan segala identitas dalam kisah ini telah disamarkan untuk menjaga keutuhan rahasia yang tersimpan didalamnya. Kisah ini juga telah mendapatkan bauran bumbu (tambahan atau pengurangan kata yang dianggap tidak perlu untuk diketahui pembaca) dari penulis namun tetap selaras dengan kenyataan yang memang ada pada “ waktu itu ”.
“Tak Ada Manusia Yang Sempurna”, adalah sebuah pernyataan yang mutlak kebenarannya sebab sifat “Kesempurnaan” itu semata-mata hanya dimiliki oleh Allah SWT. Dan tanpa pengantar yang sempurna juga, penulis mulai menggoreskan tinta hitam diatas kertas putih dengan mencoba merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita yang InsyaAllah kebenarannya memang ada.

Iis Safriani

Malam yang dingin di tengah suasana hati yang hening. Kalimat itu mungkin tepat untuk menggambarkan perasaanku saat malam. Bagaimana tidak, pagi hari kujalani biasa saja. Siang yang aku lalui tetap sama. Dan malam selalu datang menghadirkan bayangan masalalu. Aku nggak mau munafik karena di satu sisi “malam” adalah teman untukku. Namun di sisi lain “malam” kerap datang menyiksaku sampai datang pagi yang mengusirnya pergi. Entah apa maksud dari fenomena ini, tapi itulah HATI! takkan pernah ada orang yang tau tentangnya kecuali pemiliknya sendiri.
Malam itu, dari balik kamar adik bungsuku. Aku mendengar suara yang tak lain adalah suara dari handphone yang sedang aku charge. Aku mengabaikan karena fikirku pasti itu kawan yang bertanya “kamu dimana?” atau ajakan untuk keluar. Aku yang saat itu tengah asyik mendengarkan lagu kesukaanku memilih menikmati setiap syair lagu yang kudengar daripada harus check handphoneku. Aku memang begitu, mungkin itu juga sebabnya banyak teman-temanku terkadang jengkel dengan sikapku yang nggak jarang mengabaikan pesan atau telfon dari mereka. Beda halnya ketika dulu aku menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita. Aku akan sakit kalau aku jauh dari handphone, makanya handphone selalu di tangan. Hahahahaha hanya kiasan aja kok untuk menggambarkan kedekatanku dengan handphone pada saat itu. Ooo yaa, beberapa jam aku menghayati setiap syair lagu yang kudengar, aku memutuskan untuk check handphoneku. Dan ya, Baterai Full adalah hal pertama yang kudapat sebelum akhirnya aku mengaktifkan keypad yang tadinya terkunci. Disinilah awal segalanya…
Aku nggak tau siapa kamu dan darimana asalmu. Intinya aku nggak tau sedikitpun tentang kamu. Dan aku yakin kamu juga begitu, nggak punya sedikit informasi pun tentang aku. Kamu datang tiba-tiba dalam dunia “blackberry” ku. Aku pun asal accept aja tanpa banyak mikir. Maklum, di antara teman sebayaku aku terkenal sebagai anak yang paling banyak fikiran terutama dalam hal sosial atau solidaritas. Jadi nggak ada salahnya aku accept, nambah teman aja fikirku. Seperti biasa, setelah berteman dalam dunia “blackberry” aku terbiasa check profil dari teman baruku. Wanita berjilbab dengan senyum tenang, 3 rangkaian huruf menjadi sebuah nama sudah cukup membuatku ingin tau lebih jauh siapa wanita ini?
Tanpa fikir panjang kumulai layangkan serangkai kata untuk menyapanya. And you know, tanpa menunggu lama aku telah mendapat balasan darinya. “Sent Receive Sent Receive Sent Receive… Again and Again”. Darisana aku dan dia mulai saling berbagi cerita. Saling tanya-tanya sekilas profil aja menjadi tema awal dari chat kita. Setelah sama-sama telah banyak melemparkan tanya, akhirnya titik terang untuk semakin dekat dengannya mulai terlihat. Satu nama yang dia sebutkan ternyata nggak lain adalah sahabat baikku, bahkan aku dan sahabatku yang disebutkan dia itu telah mengikat tali saudara. So, kalaupun dia tidak share tentang hal yang menurut dia nggak perlu untuk aku ketahui, aku dengan mudahnya mendapat informasi itu dari sahabatku yang juga temannya. Nggak adil sih, tapi ya begitulah aku. Apapun yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan! prinsip awal sekaligus motivasiku untuk berbuat…
Hari demi hari aku lewati bersama dia dalam dunia “blackberry”. Dia banyak memberiku pencerahan terlebih ketika aku memutuskan untuk jujur tentang masa lalu yang aku jalani dulu. Masa lalu yang hitam, masa lalu yang kelam, dan masa lalu yang sama sekali tak ingin kuulang. Wanita ini menarik! bisikku dalam hati. Pernyataanku itu memang benar adanya, karena disaat kebanyakan “wanita” berpenampilan menggoda iman, dia lebih memilih bertahan dengan pakaian ala muslimah yang ia kenakan. Dan sungguh menggoda hati. Aku memang nggak pernah secara langsung bertemu dengannya, tapi perkataan sahabatku tentangnya sudah sanggup membuatku percaya. Hal ini juga yang membuatku seakan gelisah menjalani hari tanpa berkomunikasi dengannya. Kejujuran demi kejujuran mulai kulontarkan padanya, sedikit demi sedikit semua keburukanku diketahui olehnya, tapi itu tak membuatnya takut atau menjauhiku. Justru dia terus dan terus memberikanku pemahaman akan kehidupan. Memberiku semangat untuk berubah, membuaku tergerak untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bukan cuma itu, dia juga berwawasan cukup luas. Buktinya setiap perkataan atau keluhan yang aku berikan kepadanya, dia selalu bisa memberikan tanggapan berupa pengertian. Yang sangat membuatku kagum adalah ketika dia memandang kehidupan dari sisi “Islam” yang merupakan Agama yang alhamdulillah menjadi Agama yang kami anut setidaknya sampai detik ini. Semoga selamanya, amin…
Banyak hal yang telah aku share ke dia, begitu juga dia. Tapi aku yakin masih lebih banyak lagi yang aku nggak tau tentang dia. Sampai suatu hari, aku memberanikan diri memintanya menemaniku mencari “Nebulizer” untuk ayahku disebuah Health Shop. Meski telah kucari, sedikit informasi yang kudapat tentang keberadaan Health Shop di kota ini. “X Mall Lantai 1” adalah informasi tercepat yang kudapat. Kusampaikan informasi itu kepadanya sebelum aku menuju ke kota.
Waktu itu, hari pagi terasa lama kujalani, malam yang datang inginku cepat terlewati. Harapan melihat wajahnya telah tertanam dalam benakku. Informasi tentang Health Shop tadi merupakan sebuah keyakinan untukku karena informasi itu akan mewujudkan harapanku bertemu dan melihat wajahnya. Chat and share dengannya masih kulakukan. Dinginnya udara semakin menembus tulang kerempengku, gelapnya langit menjadi atap atas diriku, dan kerasnya suara hewan malam adalah pertanda larut malam telah datang. Handphone di tanganku berhenti berdering, aku check chat terakhir yang kukirimkan kepadanya. Delivered, but not read. Aku fikir dia telah tertidur, dan semoga dia tertidur. Kini aku sendiri, tanpa ada teman lagi. Aku yang biasanya tersiksa kala sendiri, kini sedikit berbeda. Kenangan masa lalu yang selalu datang saat aku sendiri terlebih pada malam hari sepertinya absen atau mungkin tertangkis karena hayalku akan hari esok ketika aku benar-benar menemuinya. Hmmm aku tersenyum, ya aku berhayal. Sampai akhirnya lama berhayal mencoba menggambar senyum di wajahnya membuatku tertidur merajut mimpi.
“Kukuruyuuuk… Kukuruyuuuk” sepintas terdengar suara ayam jantan bangunkan aku dari mimpi. Kulihat jam dinding yang sengaja aku pajang di kamar. Ini memang sudah pagi, ucapku setengah sadar. Lalu aku bergegas menuju kamar mandi, dinginnya air yang membasahi tubuhku hangat kurasakan. Kopi tanpa gula yang aku minum manis kurasakan. Sinar mentari semakin terasa menyegarkan. Jam kini menunjukkan pukul 09.00 Wita, artinya aku harus segera berangkat ke kota.
Kuambil tas punggung di meja kamar, lalu senyum orangtua mengantarku pergi meninggalkan desa ini. Kini hati tak sabar lagi, rasanya ingin segera bertemu dengan seorang wanita yang lama kubayangkan. Perjalananku yang biasanya tak terasa lama kini beda. Aku menjadi lebih sering melihat jam tangan yang kukenakan. Traffic Light yang menyala merah pertanda berhenti selalu hadirkan gelisah dalam diriku. Dan saat itu aku sungguh sedikitpun tak mengerti apa yang tengah aku rasakan. Hanya pasrah menerima apa yang memang menjadi kenyataan.
Tak lama berselang tibalah aku di tempat tujuan. Aku yang menanti akan saat-saat ini seharusnya bisa sedikit tenang. Kenyataan berkata lain, hatiku justru semakin berdebar mendekati detik pertemuanku dengannya. Hati yang berdebar semakin terasa berdebar sesaat setelah aku mengabarkan kedatanganku ke kota tempat tinggalnya. Dan beberapa jam kemudian aku dan dia membuat janji untuk bertemu di sebuah Mall di kota itu, tetap dengan tujuan awalku. Sesampai di Mall, aku dan dia nggak langsung ketemu. Maklumlah, Mall itu lumayan besar dan luas untuk sebuah pertemuan kecil seperti ini. Untuk mempercepat proses pertemuan, akhirnya aku dan dia sepakat untuk bertemu disebuah tempat di Mall itu. Wooow… ketika aku telah bertemu dengan dia untuk pertama kalinya, semua kata pujian sengaja aku simpan dalam hati. Dan sampai saat ini pun aku yakin dia nggak tau tentang pujian itu. Aku yang dulunya hanya membayangkan wayahnya saat ini berjalan di sampingnya. Health Shop yang kami cari belum juga kami temui meski telah mengelilingi Mall. Mungkin karena aku kurang menyukai keramaian dan mungkin juga karena aku takut dia bosan. Aku dengan berat hati mengajaknya pulang. Sejujurnya aku sangat menginginkan waktu yang lebih lama untuk bersama. Tapi ini masalah konsistensi, tujuan awal mencari Health Shop adalah mutlak tujuan awal. Jadi aku nggak punya alasan untuk menahannya lebih lama bersamaku. Setiap langkah kaki kami menuju halaman parkir Mall itu diiringi percakapan basa basi sampai aku mengantarnya tepat dimana dia memarkir motornya. Itulah saat-saat yang memisahkan kami pada hari pertama bertemu.
Hari-hariku setelah itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Aku yang biasanya termenung kini tersenyum. Ya, semuanya karena kehadirannya. Seorang wanita berjilbab dengan tutur kata yang terjaga dan dengan penampilan apa adanya telah mampu merubah hariku setidaknya pada waktu itu hingga aku mengabadikan moment itu dalam tulisan ini. Keesokan harinya, aku tanpa sengaja mengajaknya keluar untuk mencari angin. Kebetulan saat itu juga dia sedang diluar. Aku menentukan titik pertemuanku dengan dia untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku dan dia jalan dengan satu motor. Artinya aku dan dia bisa lebih dekat dengan kesan sedikit romantis. Laju motor sengaja kupacu pelan agar bisa lebih lama bersamanya. Namun tujuan dia adalah prioritas utama, dan setelah tujuannya terpenuhi aku dan dia pun bingung mau kemana selanjutnya. Aku tanya ke dia, dia justru bilang kemana aja. Aku yang bingung kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama kepadanya. Dan dia tetap dengan jawaban yang sama. Karena kita sama-sama belum makan, dia menawarkan untuk pergi ke suatu tempat yang nggak terlalu jauh dari jalur kami. Aku pun setuju dengan sarannya. Sesampainya kami di tempat itu, aku dan dia langsung memesan makanan dan minuman lalu menunggu di meja yang ia pilih. Aku sih ngikut aja, yang penting kan bukan tempatnya dimana asalkan sama dia. Lima belas menit menunggu, seorang waiter berjalan mendekat membawa makanan yang kami pesan. Makanan telah siap dimakan, minuman telah diminum pelan, aku dan dia pun terasa semakin akrab saja.
Sepulang dari tempat itu, chat and share masih tetap kami lakukan hingga saat ini. Aku yakin dia menyimpan banyak cerita yang nggak akan pernah sanggup ditulis. Tapi apalah daya, semuanya harus aku simpan sendiri sebagai cerita manis dalam pahitnya kenyataan. Kenyataan yang mengharuskan aku mengubah segala cerita indah menjadi duka dan mungkin airmata sebagai lanjutannya. Betapa tidak, dia yang aku kagumi, ternyata telah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Kini aku dihadapkan dalam dua pilihan sulit antara bertahan dengan segala bentuk sandiwara dalam sakitnya penantian ataukah pergi membawa cinta yang belum sempat diucapkan dan berpura-pura berlaku tenang? Pertanyaan inilah yang selalu menghantui fikiranku mulai dari saat itu sampai saat selesainya aku tulis cerita ini…
Terima kasih telah hadir dalam hidupku…
Terima kasih telah mengusir gundah dalam hatiku…
Terima kasih untuk yang nggak sesuai harapan ini…
Terima kasih IIS SAFRIANI …
Semua ini sungguh akan menjadi kenangan indah dari kedekatan kita dan sengaja dituangkan dalam “Tulisan” sederhana oleh seorang penulis cerita.
Selesai…
Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals ( Untukmu Negeri )

Pengorbanan Menjemput Adik

Hari sudah mulai gelap, aku rasa, ku harus menjemput adikku di rumah paman, sebenarnya aku baru ke-2 kalinya ke rumah pamanku, aku rasa yang pertama sejak aku masih di dalam kandungan. Hari terus menggelap aku menaikan kecepatan sepedahku, dan akhirnya aku sampai, tapi sebenarnya aku sampai di hutan bukan rumah pamanku, aku kebingungan, kemana arah yang benar.
Di dalam hutan yang sunyi, sepi, aku tetap harus berjalan dan kemudian aku melihat sebuah lampu, yang sepertinya itu lampu mobil seseorang, kemudian aku mendekatinya dan ingin menumpang.
“pak, pak, tolong berhenti pak!” seruku.
“Ngiiittt…” (suara rem mobil si bapak itu)
“ada apa dek?” tanya supir mobil tersebut.
“pak, boleh saya numpang ikut mobil bapak?”
“tapi ada syaratnya dek!”
“apa pak?”
“tapi jagain ayam-ayam saya ya!”
“siap pak, akan saya laksanakan!”
Dan akhirnya aku menyesal karena menuruti syarat supir tersebut, aku duduk di gerbong belakang mobil yang isinya ayam semua, dan akhirnya aku sampai di depan rumah pamanku, tapi aku tidak langsung menuju rumah pamanku, aku mencari-cari mesjid, dan akhirnya aku ketemu mesjid yang jaraknya lumayan dekat dari rumah pamanku dan akhirnya aku langsung menuju tempat wudhu mensjid tersebut, bukanya aku ingin wudhu lalu sholat, tetapi aku ingin mencuci tubuhku yang dipenuhi kotoran ayam.
Akhirnya tubuhku sudah agak bersih, tinggal di bagian celanaku, lalu aku melihat keluar untuk melihat, ada orang atau tidak, lalu celanaku aku buka, lalu aku taruh, dan aku kaget karena ada suara orang adzan isya, aku langsung mencari-cari celanaku, aku lupa dimana aku menaruh celanaku, aku panik, dan tiba-tiba ada suara bapak-bapak yang akan menuju ke tempat wudhu, aku tambah panik, lalu aku nekad memanjat tembok tempat whudu tersebut, ternyata usahaku gatot (gagal total) celana dalamku tersangkut di paku, lalu aku tidak jadi lompat keluar, lalu aku masuk lagi ke dalam untuk melepaskan paku dari celana dalamku.
Ternyata aku salah perhitungan, celana dalamku tersangkut paku yang tingginya sampai satu meter, otomatis aku bergelantungan di atas tempat whudu, dan tiba-tiba bapak-bapak tersebut datang, bapak-bapak tersebut kaget sekali melihatku, lalu mereka keluar lagi, disana aku lega sekali, ternyata aku salah lagi, bapak-bapak itu malah membawa sapu dan ingin memukulku yang disangka aku orang gila, aku langsung memanjat kembali dan kabur ke rumah paman dengan menggunakan celana dalam yang robeknya sangat besar.
Cerpen Karangan: Irvan Irama Syahbana
Facebook: irvan syahbana
Ttgl : Jakarta, 10 Desember 1998
Pendidikan: Sekolah Menengah Pertama (smpn 283, Bambu Apus Jakarta Timur)
Facebook : Irvan Syahbana
Twitter : @irvanpe

My Best Friend

“Sisca!!! Cepat bangun, nanti kamu telat masuk sekolah lho!!” kata Bu. Lauren sambil marah-marah.”
“Uh, iya mah, aku bangun deh”.
Sisca adalah anak tunggal dari Pa. Johnson dan Bu. Lauren. nama lengkap Sisca adalah: Fransisca Fitriya.
Lalu Sisca melihat ke arah jam dinding. “hah!! Sudah jam 6. Lalu Sisca segera turun dari tempat tidurnya dan langsung mandi. Ia mandi bebek (mandi asal-asalan jebar-jebur aja). Setelah mandi ia turun ke bawah untuk sarapan.
“mah, kok mamah bangunin aku kesiangan sih?” Tanya Sisca kesal.
“ya, maafin mamah ya, soalnya tadi mamah ketiduran, ya sudah ayo dimakan lagi, nanti telat lho!!” jawab Bu. Lauren dengan suara lembut.
“ya mah.”
Hari ini Sisca sarapan roti isi cokelat keju, dan susu coklat hangat. Sisca makan sangat cepat, karena ia buru-buru pergi sekolah. lalu ia berangkat diantar oleh mang Dedi (sopir di rumah Sisca).
“ayo mang, cepat jalan” kata Sisca.
“Baik non.” kata mang jajang
Ketika sudah sampai di sekolah, Sisca terlambat 10 menit. pintu gerbang sekolah sudah ditutup. lalu Sisca memohon kepada pak Dani (satpam di SD PELITA BANGSA) agar ia boleh masuk, akhirnya setelah memohon ia boleh masuk dan diizinkan oleh pak Dani.
“Terima kasih ya pak!”
“ya neng” jawab pak Dani.
Ketika ia masuk ke kelas v-a.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam” jawab Bu. Tiara (guru Ilmu Pengetahuan Alam).
Sisca lupa bahwa jam pertama adalah pelajaran Bu. Tiara, karena Bu. Tiara terkenal dengan kegalakkannya.
“Ma… ma… maaf bu, saya telat”
“oh iya, sisca kenapa kamu terlambat?” Tanya Bu.Tiara.
“maaf bu tadi saya bangun kesiangan.” jawab Sisca
Saat Sisca berjalan ke mejanya. Bu. Tiara memanggil Sisca.
“Sisca! kamu jangan duduk dulu” tegur Bu. Tiara dengan suara keras dan lantang.
“ya Bu” jawab Sisca.
“Kamu berdiri dulu disana, sampai pelajaran saya selesaim mengerti!”
“ya Bu” jawab Sisca.
Berarti Sisca berdiri selama 2 jam lebih
Lalu Sisca disoraki dan diejek oleh teman-temannya sekelas kecuali chika (sahabat baiknya).
Siska hanya menunduk dengan wajah yang memerah karena merasa malu. lalu, Bu Tiara melanjutkan pelajarannya.
kringgg… kring… kring…
Bel berbunyi itu tandanya Istirahat, anak-anak berlarian ke luar kelas. Dan tiba-tiba Chika memanggilku untuk ke kantin bersama.
“Sisca, ke kantin yuk!” kata Chika sambil berlari ke arah Sisca.
“ayo”. Jawab Sisca dengan singkat.
Lalu saat sudah sampai di kantin, ia duduk di meja no. 3 dan Chika langsung memanggil pelayan di kantin tersebut.(seperti di restoran saja ya).
“kamu mau pesan apa Sis?” Tanya Chika.
“emmm, aku mau Avocado Juice and cheese burger” Jawab Sisca
“oh, baiklah aku pesan 2 Avocado juice and 2 cheese burger.
Tiba-tiba chika bertanya.
“eh sis, tadi kenapa kamu telat datang?” Tanya Chika.
“emm… emm, itu mamah aku kesiangan bangunnya.” jawab Sisca dengan singkat.
Tiba-tiba Riska dan Maura datang.
“eh Chik, kamu ngapain sih temenan sama orang pemalas.” kata Maura dengan sombong
“tau tuh, aku mah malu temenan sama dia.” Kata Riska.
“eh, Maura, Riska aku gak malu kok temenan sama Sisca karena dia anak yang jujur, Justru aku malu temenan sama kalian, karena kalian adalah anak sombong” jawab Chika dengan lantang.
“Oke, itu sih terserah kamu.” kata Maura
“ya sudah kenapa kamu yang repot” jawab Chika dengan nada sebal.
Akhirnya kedua anak sombong itu pergi.
“mereka berdua memang sangat menyebalkan, jadi kamu yang sabar ya!” kata Chika.
“iya Chik, Terima Kasih ya kamu udah belain aku” kata Sisca.
“iya, sama-sama. itulah gunanya BEST FRIEND.”
Mereka tertawa dengan riang, sambil tos. Lalu ia memakan pesanannya bersama-sama. tiba-tiba kring… kring… kring…
Waktu istirahat sudah habis. Lalu mereka berdua masuk ke kelas dan duduk di tempatnya masing-masing.
Cerpen Karangan: Husna Aulia
Blog: http://husna-mazda.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/husna.aulia.33
Follow teitter aku yaa @husnaau